Berita Pangandaran (Djavatoday.com),- Di tengah gempuran hiburan modern, seni Wayang Golek—ikon budaya Sunda yang dulu merajai panggung-panggung hajatan dan pertunjukan rakyat—kini berada di ujung tanduk. Pergeseran selera masyarakat ke arah hiburan populer seperti dangdut, ronggeng, dan jaipong membuat seni tradisional ini kian terpinggirkan. Fenomena ini dirasakan langsung oleh Udis, satu dari dua pengrajin Wayang Golek yang masih bertahan di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Suaranya berat saat menceritakan bagaimana minat masyarakat terhadap seni ini terus merosot.
“Sekarang, kalau ada hajatan, lebih banyak yang pilih dangdut atau ronggeng. Wayang Golek sudah hampir punah di sini,” ujar Udis saat ditemui, Minggu (1/6/2025).
Wayang Golek Pangandaran Gantungkan Harapan pada Pembeli Mancanegara
Ketika pasar lokal nyaris mati suri, Udis justru menemukan secercah harapan dari luar negeri. Patung-patung Wayang Golek buatannya kini lebih banyak dipesan oleh pembeli dari negara-negara Eropa seperti Belanda dan Prancis—dua negara yang masih memandang seni tradisional Indonesia sebagai karya berharga.
“Kalau dari Indonesia, biasanya yang beli orang-orang tua. Anak muda sekarang sudah jarang yang tertarik,” ungkapnya.
Patung Wayang Golek hasil karya Udis dijual dengan harga antara Rp1,2 juta hingga Rp2 juta per buah, tergantung karakter dan kerumitan desainnya. Untuk menyelesaikan satu patung, ia membutuhkan waktu hingga dua minggu—proses yang menuntut ketelatenan dan keahlian tinggi.
Di tengah lesunya permintaan dalam negeri, pesanan dari luar negeri menjadi penyelamat. Bahkan, Udis sempat kewalahan menerima orderan besar.
“Tahun baru kemarin sempat ramai. Ada pesanan 40 patung dari Prancis,” tuturnya dengan senyum tipis.
Tinggal Dua Pengrajin, Ancaman Kepunahan Makin Nyata
Ancaman terhadap kelangsungan Wayang Golek di Pangandaran semakin nyata dengan menyusutnya jumlah pengrajin. Kini, hanya dua orang yang masih aktif menekuni profesi ini, termasuk Udis.
“Pengrajin tinggal dua. Yang bantu pemasaran juga cuma dua orang,” katanya.
Meski berada di tengah tantangan besar, Udis belum menyerah. Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat untuk menyelamatkan seni pertunjukan ini dari kepunahan.
“Wayang Golek itu bukan hanya hiburan. Ini warisan leluhur. Ada nilai, sejarah, dan budaya yang harus dijaga,” ucapnya.
Wayang Golek adalah lebih dari sekadar boneka kayu yang ditatah dan dicat dengan detail rumit. Ia adalah cermin budaya, simbol identitas, dan jembatan antar generasi. Di tangan para seniman seperti Udis, harapan akan hidupnya kembali seni tradisional ini masih menyala—meski hanya redup di sudut desa. (Diana/CN/Djavatoday)

