Ramadan selalu punya cerita. Bukan hanya tentang sahur dan tarawih, tapi juga tentang tawa anak-anak yang memenuhi gang kampung menjelang magrib. Di banyak daerah, Permainan Anak yang Biasa Dimainkan saat Ramadan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ngabuburit.
Saat waktu berbuka masih terasa lama, anak-anak biasanya berkumpul selepas asar. Lapangan kecil, halaman masjid, hingga jalanan kampung berubah menjadi arena bermain. Dari generasi ke generasi, permainan itu terus diwariskan, menciptakan kenangan yang sulit dilupakan.
Permainan Anak yang Biasa Dimainkan saat Ramadan Paling Populer
Salah satu Permainan Anak yang Biasa Dimainkan saat Ramadan adalah petak umpet. Permainan sederhana ini tak pernah kehilangan pesonanya. Menjelang magrib, suasana kampung yang mulai redup justru membuat permainan semakin menegangkan dan seru.
Selain itu, ada permainan kelereng yang digelar di tanah lapang atau halaman rumah. Anak-anak duduk melingkar, fokus membidik kelereng lawan. Meski terlihat sederhana, permainan ini melatih ketelitian dan kesabaran—dua hal yang selaras dengan makna Ramadan.
Tak ketinggalan, permainan bentengan juga sering dimainkan. Dua kelompok saling menjaga “markas” dan berusaha merebut wilayah lawan. Teriakan riang dan langkah kaki yang berlarian membuat suasana sore Ramadan terasa hidup.
Di beberapa daerah, anak-anak juga memainkan bedil bambu atau meriam karbit sebagai penanda waktu berbuka. Dentumannya menjadi ciri khas Ramadan, meski kini mulai dibatasi demi keamanan.
Ada pula permainan tradisional seperti congklak dan lompat tali yang dimainkan anak perempuan di teras rumah. Sambil menunggu azan, mereka bercengkerama, berbagi cerita, dan sesekali tertawa lepas.
Menariknya, di era gawai seperti sekarang, Permainan Anak yang Biasa Dimainkan saat Ramadan tetap bertahan. Meski sebagian anak memilih bermain game di ponsel, suasana kebersamaan di luar rumah masih menjadi magnet tersendiri.
Ramadan memang menghadirkan suasana berbeda. Waktu terasa lebih lambat, sore terasa lebih panjang. Di sela momen itu, permainan tradisional menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar berbagi, bekerja sama, dan menikmati kebersamaan.
Pada akhirnya, Permainan Anak yang Biasa Dimainkan saat Ramadan bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Ia adalah bagian dari kenangan masa kecil, yang kelak akan mereka ceritakan kembali—tentang sore yang hangat, tawa yang renyah, dan azan magrib yang selalu dinanti. (Ayu/CN/Djavatoday)

