Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Suasana Gedung Nadwatul Ummah di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis tampak berbeda, Senin (16/2/2026). Aroma santan dan rempah memenuhi ruangan, sementara para santri sibuk mengaduk nasi di atas tungku. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, pesantren tersebut kembali menggelar Festival Liwet Nusantara sebagai bagian dari rangkaian Tarhib Ramadan.
Kegiatan ini bukan agenda baru. Pimpinan ponpes, KH Dr Fadlil Yani Ainusyamsi, menyebut festival tersebut telah berlangsung sekitar 14 tahun dan terus menunjukkan perkembangan dari sisi partisipasi maupun kreativitas. Tahun ini, lebih dari 30 kelompok ambil bagian—meningkat dibanding pelaksanaan sebelumnya yang berkisar 17 hingga 27 peserta.
Menurutnya, konsep “liwet” dipilih karena lekat dengan tradisi pesantren dan budaya Jawa Barat. Namun di Darussalam, sajian itu dikembangkan menjadi ruang ekspresi lintas daerah. Para santri yang datang dari berbagai wilayah—Sunda, Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga daerah perbatasan Malaysia—membawa kekayaan rasa masing-masing ke dalam satu wadah.
“Konsepnya tetap liwet, tetapi cita rasanya Nusantara. Ini cara kami merangkul keberagaman dalam satu kebersamaan,” ujarnya.
Beragam kreasi tersaji di meja penilaian. Tidak hanya menu pelengkap yang variatif, tetapi juga inovasi rasa yang memadukan unsur lokal dan luar daerah. Salah satu yang mencuri perhatian adalah olahan nasi lemak terinspirasi kuliner Malaysia, hasil adaptasi santri yang pernah belajar di wilayah perbatasan Selangor. Menu tersebut memadukan karakter nasi uduk Indonesia dengan sentuhan khas Melayu.
Festival ini tak sekadar lomba memasak. Bagi pihak pesantren, kegiatan tersebut menjadi sarana menanamkan nilai gotong royong, kemandirian, dan keterampilan hidup. “Santri tidak hanya harus cakap dalam ilmu agama, tetapi juga terampil dalam kehidupan sehari-hari. Liwet mengajarkan kebersamaan dan kepraktisan,” kata KH Fadlil.
Proses penilaian dilakukan oleh tim dari unsur pimpinan muda pesantren, sementara pimpinan ponpes memantau jalannya kegiatan secara umum. Selain menentukan pemenang, evaluasi juga dilakukan untuk pengembangan festival di tahun berikutnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

