Berita Tasikmalaya (Djavatoday.com),- Siang itu, Rabu (4/2/2026), Desa Ratawangi tak terasa seperti biasanya. Tidak ada pesta besar atau keramaian berlebihan, namun suasana haru justru menguat di antara warga dan sekelompok mahasiswa yang selama sebulan terakhir menjadi bagian dari keseharian desa.
Masa pengabdian Kelompok KKN 3 STAI Al-Hidayah Tasikmalaya resmi berakhir. Lewat kegiatan bertajuk Paturay Tineung, mahasiswa dan masyarakat saling berpamitan dalam sebuah pertemuan sederhana yang sarat emosi. Tagline “Ratawangi Berdikari” yang mereka usung seolah menjadi penutup dari perjalanan 30 hari penuh cerita.
Balai desa siang itu dipenuhi wajah-wajah yang tak lagi asing. Kepala Desa Ratawangi Ahmad Hidayat hadir bersama perangkat desa, tokoh agama MUI, Karang Taruna, para kepala dusun dan RW, Babinsa, hingga kepala sekolah se-Desa Ratawangi. Mereka menjadi saksi berakhirnya kebersamaan yang terjalin sejak awal Januari 2026.
Selama mengabdi, mahasiswa KKN 3 tak sekadar menjalankan agenda kerja. Mereka berusaha masuk ke denyut kehidupan warga, menghadirkan kegiatan yang sederhana namun berdampak. Salah satunya turnamen voli terpal yang sukses menghidupkan malam-malam desa.
Sebanyak 30 tim ambil bagian. Lapangan darurat beralaskan terpal menjelma ruang kebersamaan. Warga berkumpul, anak-anak berlarian, sorak sorai terdengar—menjadikan olahraga sebagai jembatan yang menghapus jarak antara mahasiswa dan masyarakat.
Keceriaan juga datang dari sisi lain desa. Melalui program Kid’s Fun Day, mahasiswa mengajak anak-anak TK dan RA mengenal literasi dengan cara menyenangkan. Buku, permainan, dan cerita diramu agar membaca tak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan petualangan yang menggembirakan.
Tak ingin pergi tanpa meninggalkan warisan, mahasiswa membangun Pojok Baca di tiga lokasi strategis. Di perbatasan Dusun Cangkring–Merejan, pojok baca berdiri berdampingan dengan angkringan warga di jalur Pangandaran. Di Pesantren Miftahul Anwar, rak buku disiapkan untuk santri tingkat SMP dan SMA wilayah Dampasan. Sementara di SDN 1 Ratawangi, pojok baca menjadi penguat semangat literasi siswa.
Perhatian mahasiswa juga menyentuh sektor ekonomi warga. Lewat penyuluhan ringan tentang branding, pelaku UMKM diajak memandang produknya dengan perspektif baru. Bagi sebagian warga, pendampingan sederhana itu menjadi suntikan semangat untuk terus mengembangkan usaha lokal.
Kepala Desa Ratawangi, Ahmad Hidayat, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa. Ia menilai kehadiran KKN kali ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Terima kasih atas dedikasi mahasiswa KKN. Programnya mungkin sederhana, tapi terasa langsung manfaatnya bagi warga,” ujarnya.
Ketua Karang Taruna Ratawangi, Amin Azis, turut menilai kehadiran mahasiswa membuka ruang kolaborasi yang positif, khususnya bagi pemuda desa untuk bergerak bersama.
Menjelang penutupan, suasana haru semakin terasa. Ketua Kelompok KKN 3, Farhan, berharap kegiatan yang telah dijalankan bisa menjadi langkah kecil menuju kemandirian Desa Ratawangi.
Senada, perwakilan Divisi Humas KKN 3, Khoirul Rizky, menyebut sambutan hangat dari masyarakat sebagai pelajaran berharga tentang makna pengabdian.
“Kami belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari kebersamaan, ketulusan, dan kedekatan dengan masyarakat,” katanya.
KKN mungkin telah usai. Namun di Desa Ratawangi, jejak kebersamaan—dari lapangan voli terpal, tawa anak-anak, hingga pojok baca—akan terus hidup sebagai bagian dari cerita yang sulit dilupakan. (Ayu/CN/Djavatoday)

