Mengenal Hari Buta Warna Sedunia: Momen Penting untuk Lebih Peduli

Tahukah kamu kalau setiap tanggal 6 September kita memperingati Hari Buta Warna Sedunia? Momen ini mungkin jarang terdengar gaungnya jika dibandingkan dengan hari perayaan lainnya, padahal maknanya sangat besar bagi jutaan orang di seluruh dunia. Hari peringatan ini diciptakan bukan sekadar untuk formalitas kalender saja, melainkan untuk membuka mata kita semua tentang kondisi defisiensi penglihatan warna. Mari kita bahas lebih jauh mengenai apa sebenarnya kondisi ini, bagaimana sejarah peringatannya, dan mengapa kita sebagai masyarakat perlu memberikan empati lebih.

Mengapa Diperingati Setiap Tanggal 6 September?

Pemilihan tanggal 6 September ternyata memiliki sejarah yang sangat personal dan mendalam. Tanggal ini diambil dari hari ulang tahun John Dalton, seorang ahli kimia, fisikawan, dan ahli meteorologi asal Inggris yang lahir pada tahun 1766. Dalton adalah salah satu ilmuwan pertama yang menyadari, meneliti, dan mempublikasikan karya ilmiah tentang kondisi buta warna, karena kebetulan ia dan kakaknya juga mengalami hal tersebut.

Karena dedikasi dan penemuan awalnya inilah, kondisi buta warna di berbagai literatur medis terkadang masih sering disebut sebagai Daltonisme. Penetapan hari ini bertujuan untuk menghormati jasa Dalton sekaligus menjadi ajang kampanye edukasi global agar masyarakat tidak lagi menyepelekan kondisi kesulitan membedakan warna.

Apa Itu Buta Warna Sebenarnya?

Banyak orang awam yang masih salah paham dan mengira penderita buta warna hanya melihat dunia dalam palet hitam dan putih saja, layaknya menonton film bisu zaman dulu. Padahal, kenyataannya tidak se-ekstrem itu. Buta warna adalah sebuah kondisi di mana mata seseorang mengalami kesulitan untuk membedakan gradasi atau warna-warna tertentu secara akurat. Kondisi ini terjadi karena adanya kelainan atau kerusakan pada sel kerucut (sel fotoreseptor) di dalam retina mata, yaitu sel yang bertugas menangkap cahaya dan mendeteksi spektrum warna.

Kondisi ini umumnya merupakan kelainan bawaan yang diturunkan secara genetik. Secara statistik, buta warna jauh lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan karena gen pembawanya terpaut pada kromosom X. Meski sebagian besar kasus adalah bawaan sejak lahir, seseorang juga bisa mengalami buta warna di kemudian hari akibat cedera saraf mata, efek samping obat-obatan tertentu, paparan bahan kimia, atau komplikasi penyakit pada mata seiring bertambahnya usia.

Jenis-Jenis Buta Warna yang Paling Umum

Untuk bisa lebih berempati, kita perlu tahu bahwa buta warna terbagi menjadi beberapa jenis:

Buta warna merah-hijau: Ini adalah tipe yang paling mendominasi. Penderitanya sering kesulitan membedakan corak warna merah, hijau, cokelat, dan oranye. Di mata mereka, warna-warna tersebut bisa terlihat sangat mirip atau pudar, sehingga daun hijau bisa terlihat kemerahan, atau sebaliknya.

Buta warna biru-kuning: Jenis ini tergolong lebih jarang terjadi. Penderitanya akan kesulitan membedakan antara warna biru dengan hijau, serta sering tertukar antara warna kuning dengan merah atau merah muda.

Buta warna total (Achromatopsia): Kondisi ini sangat langka terjadi. Hanya mereka yang mengalami buta warna total yang benar-benar melihat dunia ini layaknya televisi hitam-putih, di mana semuanya murni tampak dalam warna hitam, putih, dan berbagai nuansa abu-abu.


Tantangan Sehari-hari yang Sering Dihadapi

Coba bayangkan sejenak menjalani rutinitas harian dengan kemampuan persepsi warna yang terbatas. Memadupadankan pakaian yang serasi di pagi hari sebelum berangkat kerja bisa menjadi tantangan yang memusingkan. Begitu juga saat mereka harus membaca grafik lingkaran penuh warna ketika sedang presentasi rapat, memilih buah pisang yang sudah matang sempurna di swalayan, atau saat memasak daging untuk memastikan tingkat kematangannya.

Di jalan raya, melihat lampu lalu lintas adalah tantangan lain, meskipun mereka biasanya bisa mengatasinya dengan menghafal urutan posisinya (merah selalu di atas, hijau di bawah). Di sekolah, anak-anak yang buta warna sering merasa minder atau kebingungan, terutama saat pelajaran menggambar atau saat guru menggunakan spidol berwarna-warni tanpa label di papan tulis. Di sinilah letak pentingnya peran lingkungan sekitar untuk mendampingi, bukan malah menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan candaan.

Cara Sederhana Mendukung Mereka di Sekitar Kita

Kita tidak perlu menjadi seorang ahli medis untuk bisa membantu teman, rekan kerja, atau anggota keluarga yang mengalami defisiensi warna. Ada beberapa kebiasaan kecil yang dampaknya sangat positif:

Sertakan teks atau pola: Jika kamu membuat materi presentasi, diagram, atau peta, jangan pernah hanya mengandalkan warna sebagai satu-satunya cara membedakan informasi penting. Tambahkan label teks, pola garis, atau bentuk simbol yang jelas.

Berikan bantuan secara natural: Tawarkan bantuan tanpa menggurui saat mereka tampak ragu memilih warna barang, mencocokkan pakaian, atau saat membeli sesuatu yang membutuhkan ketepatan estetika.

Hentikan tes tebak warna dadakan: Hindari kebiasaan terus-terusan menguji mereka dengan pertanyaan seperti, “Kalau baju aku ini warna apa? Kalau tembok itu warnanya apa?” Pertanyaan semacam ini justru membuat mereka tertekan serta tidak nyaman.

Ikut sebarkan edukasi: Manfaatkan momen Hari Buta Warna Sedunia setiap tanggal 6 September untuk membagikan informasi yang valid melalui media sosial atau sekadar obrolan santai di tempat kerja.


Meringati Hari Buta Warna Sedunia pada akhirnya adalah tentang menumbuhkan rasa empati di dalam diri kita. Dengan berusaha memahami realitas kondisi mereka, kita bisa bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi siapa saja. Dunia ini memang dianugerahi dengan penuh warna, dan meskipun beberapa orang melihat kanvas kehidupan dengan cara yang sedikit berbeda, keindahan dunia ini tetap bisa dinikmati bersama melalui kehangatan dan kepedulian nyata dari kita semua. (Ayu/CN/Djavatoday)

Mengenal Hari Amal Internasional yang Diperingati Setiap 5 September

Setiap tanggal 5 September, dunia memperingati Hari Amal Internasional atau International Day of Charity. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa membantu sesama tidak selalu harus...

Hari Jenggot Sedunia 2026: Sejarah, Makna, dan Cara Merayakannya

Hari Jenggot Sedunia atau World Beard Day kembali diperingati pada Sabtu, 5 September 2026. Peringatan unik ini menjadi momen bagi para pemilik jenggot di...

Mengenal Fenomena Langit yang Bisa Dilihat Langsung dari Bumi

Mengenal fenomena langit menjadi hal menarik bagi siapa saja yang pernah menyempatkan diri menatap langit. Dari permukaan Bumi, manusia bisa menyaksikan berbagai peristiwa alam...

Hari Menulis Surat Sedunia: Sejarah, Makna, dan Alasan Menulis Surat Tetap Istimewa

Hari Menulis Surat Sedunia atau World Letter Writing Day menjadi momentum untuk kembali mengenal sebuah kebiasaan yang perlahan tergeser oleh pesan instan dan komunikasi...

Terbaru