Di Balik Sukses Nyiar Lumar di Kawali Ciamis, Ada Sanghyang Cika-cika

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Ribuan warga memadati rangkaian pagelaran Nyiar Lumar di Kawali, Kabupaten Ciamis, Sabtu (5/9/2026). Dari Eks Pendopo Kawali hingga kawasan Situs Astana Gede, acara budaya yang digelar dua tahunan itu berlangsung meriah dan lancar.

Namun, kemeriahan tersebut tidak lepas dari kerja keras tim yang justru lebih banyak berada di balik panggung. Mereka adalah Sanghyang Cika-cika, tim artistik yang menjadi salah satu penggerak penting dalam menyiapkan wajah Nyiar Lumar.

Nama Cika-cika diambil dari filosofi kunang-kunang. Seperti kunang-kunang yang memberikan cahaya di tengah gelap tanpa menghilangkan suasana malam, tim ini bertugas menghadirkan penerangan sekaligus menjaga nuansa tradisional Nyiar Lumar.

Sejak Nyiar Lumar edisi ketiga, Sanghyang Cika-cika disebut telah setia mengawal proses kreatif pagelaran tersebut. Pekerjaan mereka bukan sekadar menyiapkan panggung, tetapi juga merancang berbagai kebutuhan artistik yang menjadi bagian dari identitas acara.

Mulai dari panggung utama, dekorasi, instalasi bambu, oncor, hingga ribuan lampu damar sewu dikerjakan oleh tim tersebut.

Nyiar Lumar memang memiliki konsep berbeda. Pagelaran ini tidak menggunakan tata cahaya modern. Karena itu, Sanghyang Cika-cika harus mengatur pencahayaan tradisional secara cermat agar setiap titik penting tetap terang tanpa menghilangkan suasana alami malam hari.

Di balik hasil yang terlihat indah oleh penonton, prosesnya cukup berat. Para anggota tim bekerja berhari-hari dan rela meninggalkan keluarga untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan artistik.

Mereka juga tidak bekerja dengan pola upah harian seperti pekerja proyek pada umumnya. Sebagian besar pekerjaan dilakukan dengan semangat pengabdian dan kecintaan terhadap budaya.

Saat pertunjukan berlangsung, keberadaan mereka pun nyaris tidak terlihat. Mereka justru sibuk di belakang panggung, memastikan instalasi dan pencahayaan tetap berjalan. Tidak jarang pakaian mereka dipenuhi jelaga dan minyak tanah akibat pekerjaan tersebut.

Kondisi itu pula yang membuat proses regenerasi Sanghyang Cika-cika menjadi tantangan tersendiri. Beban pekerjaan yang cukup berat dan minim sorotan membuat tidak mudah mencari generasi baru yang mau meneruskan peran tersebut.

Persiapan Hanya Satu Bulan

Tantangan semakin besar pada pelaksanaan Nyiar Lumar 2026. Dengan kondisi ideal dan dukungan anggaran yang cukup, persiapan artistik untuk pagelaran sebesar itu biasanya membutuhkan waktu hingga tiga bulan.

Namun, Sanghyang Cika-cika mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam waktu sekitar satu bulan.

Dalam waktu singkat tersebut, mereka menata area seluas sekitar 5,3 hektare dan menyiapkan enam hingga tujuh titik panggung utama di sekitar kawasan kantor Kecamatan Kawali.

Kecepatan tersebut dilakukan dengan menyesuaikan konsep, material dan teknik pengerjaan tanpa meninggalkan karakter tradisional yang menjadi roh Nyiar Lumar.

Hasilnya terlihat ketika malam tiba. Cahaya dari oncor dan lampu damar sewu menerangi area pertunjukan, berpadu dengan suasana malam Kawali. Tidak ada sorotan lampu modern yang mendominasi, tetapi aktivitas seniman dan penonton tetap bisa berlangsung dengan nyaman.

Kepala Disbudpora Ciamis, Dian Budiyana, mengapresiasi kerja Sanghyang Cika-cika dalam menyukseskan Nyiar Lumar 2026.

Dian yang juga turut tampil di salah satu panggung dalam pagelaran tersebut mengaku puas melihat hasil artistik dan pencahayaan yang disiapkan tim.

“Tentunya saya mengapresiasi setinggi-tingginya Sanghyang Cika-cika. Mereka telah bekerja keras menyiapkan artistik dan pencahayaan Nyiar Lumar,” kata Dian.

Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan Sanghyang Cika-cika menjadi bagian penting dari keberhasilan pagelaran. Sebab, konsep Nyiar Lumar tidak hanya mengandalkan penampilan para seniman, tetapi juga suasana ruang yang dibangun melalui artistik dan pencahayaan tradisional.

“Yang mereka kerjakan bukan hanya soal panggung, tetapi bagaimana membangun suasana Nyiar Lumar. Cahaya, dekorasi dan berbagai instalasi itu menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan masyarakat saat mengikuti pagelaran,” ujarnya.

Kerja mereka memang tidak banyak terlihat. Tetapi ketika ribuan warga menikmati pertunjukan dalam suasana malam yang diterangi cahaya tradisional, di sanalah jejak Sanghyang Cika-cika terasa.

Mereka bekerja dalam senyap, jauh dari sorotan panggung, untuk memastikan roh tradisional Nyiar Lumar tetap menyala. (CN/Djavatoday)

Kemarau 2026 di Ciamis Diprediksi Lebih Parah dari 2023, 8.646 KK Terdampak

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampak yang lebih luas di Kabupaten Ciamis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis mencatat laporan kekeringan...

Kejar Target 50 Persen, Dinkes Ciamis Genjot Program Cek Kesehatan Gratis

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Cakupan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Ciamis terus diperluas. Hingga 7 September 2026, program pemeriksaan kesehatan gratis tersebut telah...

Ciamis Tak Terdampak Abu Vulkanik, BPBD Imbau Warga Tetap Waspada

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis memastikan hingga Senin (7/9/2026) siang belum menemukan dampak sebaran abu vulkanik yang diduga berkaitan...

Tradisi Nyangku di Panjalu Ciamis, Merawat Warisan Leluhur hingga Generasi Mendatang

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kawasan Pasanggrahan, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, dipenuhi warga pada Senin (7/9/2026). Mereka datang untuk mengikuti Tradisi Nyangku, ritual adat yang...

Terbaru