Jawer kotok merah merupakan salah satu tanaman yang cukup mudah ditemukan di lingkungan rumah. Daunnya memiliki warna yang mencolok, mulai dari merah, merah keunguan hingga perpaduan hijau dan ungu, sehingga sering ditanam sebagai tanaman penghias halaman.
Namun, jawer kotok ternyata tidak hanya dikenal karena tampilannya. Tanaman yang secara ilmiah dikenal sebagai Coleus scutellarioides ini juga sudah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di sejumlah daerah. Nama ilmiah yang sebelumnya banyak digunakan, Plectranthus scutellarioides, kini tercatat sebagai sinonim dari Coleus scutellarioides dalam basis data Plants of the World Online milik Royal Botanic Gardens, Kew.
Lantas, apa saja manfaat jawer kotok merah dan bagaimana penelitian melihat potensi tanaman ini?
Mengenal Jawer Kotok Merah
Jawer kotok termasuk tanaman dari keluarga Lamiaceae. Di Indonesia, tanaman ini juga dikenal dengan berbagai nama daerah, termasuk iler atau miana.
Tanaman ini memiliki bentuk dan warna daun yang cukup beragam. Kew mencatat Coleus scutellarioides sebagai spesies yang memiliki variasi bentuk dan warna daun yang sangat luas. Tanaman ini juga tersebar secara alami di kawasan Asia hingga Australia, termasuk Indonesia.
Selain dimanfaatkan sebagai tanaman hias, jawer kotok juga memiliki sejarah penggunaan dalam pengobatan tradisional. Sejumlah penelitian kemudian mencoba melihat kandungan senyawa serta aktivitas biologis yang dimiliki tanaman tersebut.
Manfaat Jawer Kotok Merah
Perlu dipahami, sebagian besar penelitian mengenai khasiat jawer kotok masih berada pada tahap uji laboratorium, penelitian pada hewan, atau kajian literatur. Jadi, hasil penelitian tersebut belum bisa disamakan dengan bukti bahwa jawer kotok dapat menggantikan pengobatan medis.
Berikut beberapa potensi manfaat yang banyak dibahas dalam penelitian.
- Berpotensi sebagai antioksidan
Salah satu potensi jawer kotok adalah aktivitas antioksidannya. Review yang diterbitkan pada 2025 menyebut beberapa jenis Coleus, termasuk C. scutellarioides, memiliki aktivitas antioksidan yang berkaitan dengan kandungan senyawa seperti flavonoid, antosianin, asam rosmarinat dan senyawa fenolik.
Antioksidan sendiri berperan membantu melindungi sel dari tekanan oksidatif. Karena itu, keberadaan senyawa antioksidan menjadi salah satu alasan tanaman ini menarik untuk diteliti lebih lanjut.
- Memiliki potensi antiinflamasi
Daun jawer kotok juga banyak diteliti karena aktivitas antiinflamasinya. Sebuah kajian dari Universitas Padjadjaran menemukan adanya senyawa dalam daun jawer kotok yang berkaitan dengan aktivitas antiinflamasi, antara lain antosianin, asam rosmarinat, fitol dan kuersetin.
Meski demikian, temuan tersebut belum berarti konsumsi jawer kotok dapat digunakan sebagai terapi untuk penyakit peradangan pada manusia.
- Berpotensi mendukung respons imun
Penelitian mengenai jawer kotok juga membahas aktivitas imunomodulator. Artinya, ekstrak atau kandungan tertentu dari tanaman tersebut berpotensi memengaruhi respons sistem kekebalan tubuh.
Namun, penelitian mengenai efek ini masih perlu dikembangkan sebelum dapat ditarik menjadi rekomendasi penggunaan sebagai obat pada manusia.
- Berpotensi memiliki aktivitas antibakteri
Beberapa kajian mengenai tanaman Coleus menemukan adanya aktivitas antibakteri dari senyawa tertentu yang terkandung di dalamnya. Review etnobotani dan aktivitas antioksidan Coleus juga mencatat bahwa sejumlah masyarakat secara tradisional memanfaatkan tanaman dari kelompok ini untuk berbagai keperluan kesehatan, termasuk sebagai antibakteri.
Potensi tersebut menarik untuk diteliti, tetapi tidak berarti daun jawer kotok dapat menggantikan antibiotik yang diresepkan dokter.
- Secara tradisional digunakan untuk berbagai keluhan
Jawer kotok telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Kajian Farmaka Universitas Padjadjaran mencatat penggunaan tradisional tanaman ini antara lain berkaitan dengan batuk, sakit perut, nyeri otot, gangguan pencernaan, dermatitis dan beberapa keluhan lainnya.
Penggunaan secara tradisional merupakan bagian penting dari pengetahuan masyarakat. Namun, pengalaman penggunaan tersebut tetap perlu dibedakan dari bukti klinis modern.
Kandungan Jawer Kotok yang Menarik Diteliti
Potensi jawer kotok tidak lepas dari berbagai senyawa metabolit sekunder yang ditemukan dalam tanaman tersebut.
Sejumlah kajian menyebut adanya flavonoid, alkaloid, tanin, glikosida, steroid, terpenoid, antosianin, asam rosmarinat, minyak atsiri dan senyawa fenolik pada tanaman Coleus. Komposisi tersebut menjadi salah satu alasan jawer kotok terus diteliti sebagai sumber bahan bioaktif.
Khusus pada daun jawer kotok, warna merah atau keunguan juga berkaitan dengan keberadaan pigmen tumbuhan seperti antosianin.
Apakah Jawer Kotok Merah Aman Dikonsumsi?
Bagian ini perlu diperhatikan. Meskipun jawer kotok memiliki sejarah penggunaan tradisional dan sejumlah penelitian menunjukkan potensi aktivitas biologis, bukti keamanan dan efektivitas penggunaan sebagai obat pada manusia masih terbatas.
Karena itu, sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi daun jawer kotok dalam jumlah tertentu atau menjadikannya pengganti obat dokter. Terlebih bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, atau orang yang sedang menjalani pengobatan rutin.
Jika ingin menggunakan tanaman herbal untuk tujuan kesehatan, konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan, terutama ketika memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat.
Cara Memanfaatkan Jawer Kotok Merah
Untuk kebutuhan sehari-hari, jawer kotok merah lebih aman dipandang sebagai tanaman hias sekaligus bagian dari kekayaan tanaman obat tradisional.
Masyarakat dapat menanamnya di pekarangan, mengenali jenis tanaman dengan benar, serta mempelajari pemanfaatan tradisionalnya dari sumber yang dapat dipercaya.
Sementara untuk tujuan pengobatan, diperlukan kehati-hatian. Penelitian terhadap jawer kotok masih terus berkembang dan hasil uji laboratorium belum otomatis menunjukkan manfaat yang sama ketika tanaman dikonsumsi manusia.
Manfaat jawer kotok merah yang banyak dibahas dalam penelitian antara lain potensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, imunomodulator dan antibakteri. Tanaman ini juga memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional.
Meski begitu, khasiat tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti pengobatan medis. Sebagian bukti yang tersedia masih berasal dari penelitian laboratorium, hewan dan kajian literatur. Diperlukan penelitian klinis yang lebih kuat untuk memastikan manfaat, dosis dan keamanannya pada manusia.
Pada akhirnya, jawer kotok merah bukan hanya menarik karena warna daunnya. Di balik tampilannya sebagai tanaman penghias halaman, terdapat potensi senyawa alami yang masih terus dipelajari oleh para peneliti. (Ayu/CN/Djavatoday)

