Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kabupaten Ciamis terus menunjukkan geliatnya dalam sektor pariwisata dengan perkembangan desa wisata yang kini mulai menarik perhatian wisatawan luar daerah. Setelah ditinggalkan Pangandaran sebagai daerah otonom belasan tahun lalu, Ciamis perlahan bangkit membangun daya tarik wisata berbasis alam dan budaya lokal.
Menurut Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Ciamis, Dian Kusdiana, saat ini terdapat tiga desa wisata unggulan yang siap dikenal luas, yaitu Desa Cibeureum, Selamanik, dan Desa Jalatrang dengan ikon Kampung Bungur. Ketiganya menawarkan pengalaman wisata yang beragam. Mulai dari keindahan alam, kegiatan edukasi, hingga aktivitas seru seperti trekking, kemping, dan wisata kuliner.
“Ketiga desa ini memiliki keunggulan lengkap, dari wisata minat khusus hingga edukasi. Wisatawan bisa memilih pengalaman yang mereka inginkan,” ujar Dian, Jumat (24/1/2025).
Perkembangan Desa Wisata di Ciamis
Salah satu daya tarik desa wisata di Ciamis adalah keunikan alamnya yang bersahabat dan mudah diakses. Berbeda dengan daerah pegunungan curam, kawasan wisata Ciamis menawarkan medan yang ramah untuk segala usia. Lokasinya yang dekat dengan jalur nasional juga memudahkan wisatawan untuk berkunjung, terutama ke kawasan Sukamantri dan Panjalu Raya yang menawarkan udara sejuk sepanjang hari.
“Desa wisata ini menarik banyak wisatawan, khususnya kalangan pendidikan yang memesan paket long stay selama 2-3 hari dengan akomodasi di homestay,” jelas Dian.
Dukungan digitalisasi pemasaran turut mendorong kunjungan wisatawan, termasuk dari kota besar seperti Jakarta dan Bekasi. Wisatawan kini bisa memesan paket “life-in” untuk merasakan kehidupan di desa selama beberapa hari.
Kampung Bungur: Ikon Wisata Edukasi di Desa Jalatrang
Desa Jalatrang di Kecamatan Cipaku menjadi salah satu destinasi unggulan, dengan Kampung Bungur sebagai daya tarik utamanya. Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, atau yang akrab disapa Asdad, menyampaikan bahwa Kampung Bungur menawarkan berbagai aktivitas edukasi, seperti membatik, pengolahan pangan, dan kegiatan ketahanan pangan.
“Konsep kami fokus pada paket edukasi dan studi banding. Pengunjung datang dari berbagai daerah, termasuk Brebes, Garut, hingga Aceh, untuk belajar tentang budaya dan tradisi lokal,” ungkap Asdad.
Setiap bulannya, Desa Jalatrang menerima rata-rata 1.000 pengunjung, termasuk kalangan akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Galuh (Unigal). Melalui media sosial dan dukungan promosi dari BP2D Ciamis, desa ini berhasil menarik perhatian wisatawan secara signifikan.
Mengusung Kearifan Lokal Sebagai Daya Tarik
Keunikan desa wisata di Ciamis terletak pada pendekatan berbasis budaya lokal. Kampung Bungur, misalnya, tidak menawarkan fasilitas modern, melainkan pengalaman otentik seperti bertani, beternak, dan menikmati kuliner khas ungu.
“Wisata di sini tidak mahal, tetapi memberikan pengalaman unik yang berfokus pada kearifan lokal dan tradisi masyarakat,” tambah Asdad.
Melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan promosi digital, desa wisata di Ciamis kini menjadi destinasi pilihan bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda. Dengan potensi yang terus berkembang, desa wisata ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan. Tapi juga memberikan dampak positif langsung bagi perekonomian lokal.
Menuju Masa Depan Pariwisata Berbasis Komunitas
Keberhasilan desa wisata di Ciamis menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis budaya dan edukasi dapat menciptakan destinasi yang berkelanjutan. Pengembangan desa wisata ini juga menjadi langkah strategis untuk menjadikan Ciamis sebagai tujuan wisata unggulan di Jawa Barat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelestarian tradisi dan pemberdayaan lokal. (Ayu/CN/Djavatoday)

