Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Musim kemarau mulai membawa dampak di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis mencatat sedikitnya 2.707 jiwa di tiga kecamatan mulai terdampak kekeringan. Menghadapi kondisi tersebut, BPBD memperkuat penanganan darurat sekaligus mengintensifkan upaya mitigasi agar dampaknya tidak semakin meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, mengatakan wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih berada di Kecamatan Banjarsari, Banjaranyar, dan Cidolog. Menurutnya, berkurangnya curah hujan membuat sejumlah mata air, sungai kecil, hingga sumur warga mulai mengering.
“Musim kemarau memang membawa dampak berantai. Ketika sumber air mulai menyusut, kebutuhan air bersih masyarakat ikut terganggu. Pada saat yang sama, potensi kebakaran hutan dan lahan juga meningkat,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Untuk membantu warga, BPBD bersama Perumda Air Minum Tirta Galuh telah menyalurkan sekitar 55 ribu liter air bersih ke sejumlah daerah terdampak. Distribusi dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Air bersih disuplai oleh Perumda Tirta Galuh, sedangkan BPBD mengoordinasikan pendistribusiannya agar bisa diterima masyarakat yang membutuhkan secara gratis,” kata Ani.
Ia menambahkan, BPBD juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perusahaan, komunitas, lembaga hingga para dermawan yang ingin ikut membantu penyediaan air bersih selama musim kemarau berlangsung.
Di tengah meningkatnya ancaman kekeringan, BPBD memastikan seluruh personel tetap bersiaga penuh selama 24 jam.
Ani menjelaskan, tiga tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) bergantian bertugas setiap hari untuk menerima laporan dan merespons setiap kejadian bencana.
“Petugas Pusdalops siaga selama 24 jam. Begitu ada laporan dari masyarakat, kami langsung bergerak sesuai kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Selain didukung sekitar 80 personel, BPBD Ciamis juga memiliki berbagai peralatan penanggulangan bencana, mulai dari perlengkapan penyelamatan di air, evakuasi medan terjal, hingga lima mobil tangki yang digunakan untuk mendistribusikan air bersih. Apabila diperlukan alat berat saat terjadi longsor, BPBD akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan instansi terkait.
Tidak hanya fokus pada penanganan darurat, BPBD juga terus memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan kepada pemerintah desa dan kecamatan, sekaligus menyasar dunia pendidikan melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Menurut Ani, pembekalan mengenai kesiapsiagaan bencana juga diberikan kepada masyarakat melalui Program Desa Tangguh Bencana agar warga lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana.
“Mitigasi menjadi langkah penting. Semakin baik pemahaman masyarakat, semakin kecil risiko yang ditimbulkan saat bencana terjadi,” katanya.
BPBD mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air selama musim kemarau dan memprioritaskan untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, warga diminta tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan karena kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar dan memicu kebakaran hutan maupun lahan.
“Kami berharap masyarakat ikut menjaga lingkungan dan segera melapor apabila menemukan potensi bencana di wilayahnya. Penanggulangan bencana membutuhkan kerja sama semua pihak agar dampaknya bisa diminimalkan,” pungkas Ani. (Ayu/CN/Djavatoday)

