Selama akhir pekan lalu, banyak pemilik perangkat Roku dikejutkan oleh metode periklanan baru yang diterapkan perusahaan.
Sebelum mereka sempat mengakses homescreen Roku, sebuah trailer untuk Moana 2 tiba-tiba diputar secara otomatis.
Laporan dari Ars Technica serta berbagai diskusi di Reddit menyoroti keluhan pelanggan terhadap kebijakan ini, yang dianggap semakin mengganggu pengalaman pengguna.
Seperti yang bisa diduga, reaksi dari pelanggan Roku sebagian besar bernada negatif.
Meskipun Roku memang memperoleh sebagian besar pendapatannya dari iklan—alih-alih dari penjualan perangkat streaming murah—eksperimen terbaru ini justru tampaknya merusak reputasi perusahaan.
Sama seperti yang dialami Amazon, Roku kini menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan strategi monetisasi dengan kepuasan pelanggan.
Banyak pelanggan mengungkapkan kekecewaan mereka di berbagai platform daring. Salah satu pengguna Reddit menulis dengan kesal,
“Saya bisa menerima banner ads, tapi saya tidak akan mentoleransi video yang otomatis diputar saat saya menyalakan Roku saya.”
Sementara itu, seorang pengguna lain menuliskan keluhannya di forum komunitas Roku, “Saya baru saja menyalakan TV dan tiba-tiba sebuah video mulai diputar di layar utama. Saya harap ini hanya kesalahan sistem.”
Sebagian besar pelanggan menilai kebijakan ini sebagai langkah yang terlalu agresif dan invasif.
Bahkan, beberapa pengguna mengancam akan meninggalkan produk Roku sepenuhnya jika praktik ini terus berlanjut.
Seorang pelanggan yang telah lama menggunakan Roku menyatakan, “Saya sudah membuang semua perangkat Amazon saya bertahun-tahun lalu karena praktik periklanan seperti ini. Jika Roku tetap bersikeras, saya akan melakukan hal yang sama dengan perangkat mereka.”
Dalam laporan keuangan terbaru, pendiri sekaligus CEO Roku, Anthony Wood, menekankan bahwa perusahaannya sangat berhati-hati dalam menempatkan iklan di homescreen mereka.
Ia mengklaim bahwa Roku sedang mencari cara untuk meningkatkan monetisasi tanpa mengorbankan kepuasan pengguna.
“Strategi kami dalam mengoptimalkan layar utama tidak sekadar menampilkan video iklan di sana. Kami sangat berhati-hati dalam penempatan iklan, karena kami memahami bahwa pelanggan mencintai tampilan homescreen kami. Kami tidak ingin merusaknya,” ujar Wood.
Namun, kenyataannya, Roku sudah mulai bereksperimen dengan iklan yang lebih agresif sejak tahun lalu.
Selain mengubah iklan homescreen dari statis menjadi dinamis, perusahaan juga telah menjajaki kemungkinan menampilkan overlay iklan pada perangkat HDMI yang tersambung—artinya, jangkauan iklan mereka bisa meluas hingga ke perangkat lain di luar ekosistem Roku.
Dalam pernyataan resmi kepada Ars Technica, Roku tidak secara langsung mengakui bahwa mereka telah melampaui batas toleransi pengguna.
“Kami selalu melakukan pengujian dan inovasi berkelanjutan dalam desain, navigasi, konten, serta produk periklanan kami yang berkualitas tinggi,” ujar perwakilan perusahaan.
Mereka mengklaim bahwa iklan startup Moana 2 hanyalah contoh dari “cara baru untuk menampilkan merek dan program secara inovatif, tanpa mengorbankan pengalaman pengguna yang menyenangkan dan sederhana.”
Namun, berdasarkan reaksi pelanggan sejauh ini, banyak yang merasa bahwa pengalaman yang dimaksud jauh dari kata menyenangkan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Roku. Amazon dan Google juga telah menerapkan strategi serupa untuk meningkatkan pendapatan iklan mereka.
Bahkan, perangkat yang dijual dengan harga premium pun tidak terhindar dari kebijakan ini.
Seorang pengguna melaporkan bahwa beberapa minggu lalu, mereka melihat iklan layar penuh Starbucks di homescreen Google TV pada TV Hisense U8N—yang dibanderol dengan harga lebih dari $900.
Ini menunjukkan bahwa model bisnis berbasis iklan bukan hanya terbatas pada perangkat murah, tetapi juga telah merambah ke produk-produk kelas atas.
Bagi pelanggan yang merasa terganggu, pilihan mereka cukup terbatas:
- Mengabaikan iklan dan tetap menggunakan perangkat seperti biasa.
- Beralih ke perangkat yang lebih bebas iklan, seperti Apple TV 4K, meskipun dengan harga yang lebih tinggi.
- Menggunakan alat pihak ketiga seperti Pi-hole untuk memblokir iklan—meskipun beberapa pengguna curiga bahwa Roku telah menemukan cara untuk mengatasi solusi ini.
Keputusan Roku untuk menampilkan iklan video sebelum homescreen terbuka telah memicu gelombang protes dari pelanggan yang merasa bahwa batas toleransi mereka telah dilewati.
Meskipun perusahaan mengklaim bahwa langkah ini merupakan bagian dari inovasi, banyak pengguna yang merasa bahwa pengalaman mereka telah dikorbankan demi keuntungan perusahaan.
Jika Roku tidak segera mencari solusi untuk menyeimbangkan kepentingan monetisasi dan kepuasan pelanggan, mereka berisiko kehilangan pangsa pasar.
Dalam era di mana konsumen memiliki banyak pilihan, sebuah kebijakan yang dinilai terlalu mengganggu bisa menjadi alasan bagi pelanggan setia untuk mencari alternatif lain.

