Menjadi baik merupakan langkah untuk membangun karakter dan habit yang mampu menentukan bagaimana orang lain memandang kita. Setiap perlakuan baik, entah sepele atau signifikan, konon bisa menular. Artinya, saat kita bersikap ramah, senang membantu, suka berbagi, semuanya pasti akan berbalik pada kita. Dengan berperilaku baik, kita bisa menciptakan lingkungan sosial yang lebih mudah dijalani karena di dalamnya ada rasa aman, nyaman, dan penuh kepercayaan. Namun, menjadi baik bukan berarti mengizinkan orang lain untuk melakukan apa pun sesuka hati atau semena-mena. Kebaikan harus diimbangi dengan sikap tegas agar kita tidak kehilangan diri kita sendiri. Maka dari itu, kita tidak dianjurkan untuk terlalu sering mengutamakan orang lain. Kita berhak menolak, mengatakan tidak, atau bahkan menjaga jarak.
Terlalu mengutamakan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan, baik secara emosional maupun mental. Salah satu konsekuensinya adalah berisiko terjerat hubungan yang toxic dan abusive. Orang lain akan menganggap rendah, sehingga dengan mudah memperlakukanmu sesuka hati.
Dampak Negatif Terlalu Sering Mengutamakan Orang Lain
Banyak orang sering mengutamakan orang lain karena berbagai alasan yang menyertai, salah satunya yaitu kebutuhan untuk diterima. Sejatinya, setiap manusia ingin merasa dibutuhkan, disukai, dan diakui. Maka, cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh hal tersebut adalah dengan membantu dan mendahulukan kepentingan orang lain. Namun, jika berlebihan, hal ini bisa membuat kita terus berusaha menyenangkan orang lain meski harus mengorbankan diri kita sendiri. Berikut merupakan dampak negatif terlalu mengutamakan orang lain.
Berisiko Terjerat dalam Hubungan yang Toxic dan Abusive
Terlalu mengutamakan orang lain bisa membuat kamu terjerat dalam hubungan yang toxic dan abusive. Ketika kamu terus menerus memprioritaskan mereka, mereka akan memperlakukanmu dengan tidak adil. Kamu seakan terlihat sepele dan tidak penting untuk diperhatikan. Mereka justru hanya akan memanfaatkan mu, membuatmu terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
Munculnya Rasa Kecewa dan Tidak dihargai
Ketika kamu berperilaku baik pada orang lain, kamu mungkin berharap mendapat perlakuan serupa. Sayangnya, masih ada orang yang enggan bersikap demikian. Mereka belum tentu memiliki hati sebaik dan setulus kamu. Sehingga saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan, muncullah rasa kecewa dan perasaan tidak dihargai. Lama-kelamaan, hal ini bisa membuat kamu merasa capek dan kehilangan semangat untuk berbuat baik lagi.
Kelelahan Emosional
Terlalu mengutamakan orang lain juga bisa menyebabkan rasa lelah secara emosional. Kamu pasti merasa energimu terkuras habis setelah berusaha membuat orang lain merasa senang. Padahal, kamu tidak selalu harus menyenangkan bagi orang lain. Kamu bisa menolak dan mengatakan tidak untuk semua hal yang membuat batinmu lelah.
Rasa Cemas dan Bersalah yang Berlebihan
Seseorang yang terbiasa mendahulukan orang lain sering kali merasa bersalah ketika mencoba memprioritaskan dirinya sendiri. Kamu mungkin pernah mengalami cemas karena takut dianggap berubah atau tidak baik seperti sebelumnya. Kondisi di mana kamu merasa bersalah adalah dampak negatif yang timbul dari kebiasaan mengutamakan orang lain. Dengan begitu, kemampuanmu untuk merawat diri sendiri jadi terhambat. Akibatnya, stres dan kecemasan makin sering muncul.
Dampak pada Kesehatan Fisik
Kelelahan mental dan stres akibat terus-menerus mengorbankan diri bisa berdampak pada kesehatan fisik. Jika terus mengutamakan orang lain, mentalmu merasa terus ditekan karena tidak memiliki kebebasan, akibatnya tidur jadi terganggu, mudah lelah, nyeri otot, hingga menurunnya daya tahan tubuh. Itulah beberapa tanda bahwa tubuh ikut menanggung beban emosional yang tidak dikelola dengan baik.
Itu dia dampak negatif terlalu mengutamakan orang lain yang akan membuat kamu kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Kamu mungkin merasa hampa, bingung menentukan apa yang benar-benar kamu inginkan, dan akhirnya hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Namun, mulai saat ini, jangan biarkan kamu kehilangan kendali atas hidupmu sendiri. Prioritaskan dirimu dengan tetap berbuat baik yang pada diri sendiri dan orang lain. (Karin/Djavatoday)

