Bagi banyak orang, secangkir kopi bukan sekadar minuman untuk mengawali pagi. Ada yang menikmatinya sambil membuka berita, menemani bekerja, berbincang dengan teman, atau sekadar duduk menikmati suasana.
Kebiasaan sederhana itu ternyata memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Sebelum sampai ke meja, kopi telah melewati perjalanan dari kebun, tangan petani, proses pengolahan, perdagangan hingga akhirnya diseduh menjadi minuman yang akrab dalam keseharian.
Karena itulah setiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kopi Internasional atau International Coffee Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk merayakan kopi sekaligus mengingat jutaan orang yang kehidupannya bergantung pada komoditas tersebut.
Apa Itu Hari Kopi Internasional?
Hari Kopi Internasional merupakan peringatan tahunan yang jatuh pada 1 Oktober. International Coffee Organization (ICO) menyebutnya sebagai kesempatan untuk merayakan keberagaman, kualitas dan budaya kopi sekaligus memberikan perhatian kepada para petani yang menggantungkan penghidupan dari tanaman tersebut.
Tanggal 1 Oktober sebelumnya disepakati oleh negara-negara anggota ICO pada Maret 2014 sebagai hari peringatan bersama. Peringatan internasional tersebut kemudian mulai digelar pada 1 Oktober 2015.
Kini, Hari Kopi Internasional juga menjadi bagian dari agenda resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Majelis Umum PBB menetapkan 1 Oktober sebagai International Coffee Day melalui Resolusi 80/248.
Hari Kopi Internasional 2026
Tahun 2026 menjadi babak penting karena untuk pertama kalinya Hari Kopi Internasional diperingati sebagai observansi PBB.
Peringatan pada 1 Oktober 2026 mengangkat tema “Celebrating Coffee, Honouring the People Behind Every Cup” atau merayakan kopi sekaligus menghormati orang-orang di balik setiap cangkir.
Tema tersebut mengajak masyarakat melihat kopi dari sisi yang lebih luas. Bukan hanya soal rasa dan cara penyajian, tetapi juga tentang petani, pekerja, lingkungan, budaya, ekonomi dan keberlanjutan industri kopi.
Ada Cerita Panjang di Balik Secangkir Kopi
Ketika kopi sudah berada di dalam cangkir, proses panjang di belakangnya sering kali tidak terlihat.
Perjalanan itu dimulai dari benih yang ditanam dan dirawat petani. Tanaman kemudian tumbuh, menghasilkan buah kopi yang dipanen dan diolah. Setelah melalui proses pengeringan serta penyortiran, biji kopi masuk ke rantai perdagangan sebelum akhirnya disangrai dan diseduh.
PBB mencatat hingga 25 juta rumah tangga petani menghasilkan sekitar 80 persen kopi dunia. Karena itu, kondisi industri kopi tidak hanya berkaitan dengan minuman yang dikonsumsi masyarakat, tetapi juga dengan kehidupan banyak keluarga di negara-negara penghasil kopi.
Di sisi lain, petani kopi juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca, kekeringan, hujan berlebihan, hama, penyakit tanaman hingga kenaikan biaya produksi.
Artinya, ketika harga kopi, kualitas hasil panen atau kondisi cuaca berubah, dampaknya bisa terasa hingga ke tingkat petani.
Kopi dan Kehidupan Masyarakat Indonesia
Di Indonesia, kopi telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Cara menikmatinya pun beragam.
Ada kopi hitam yang diseduh sederhana, kopi tubruk dengan ampas yang masih mengendap di dasar gelas, hingga berbagai racikan kopi susu yang kini mudah ditemukan di kedai-kedai.
Namun, ada satu hal yang hampir selalu sama: kopi sering menjadi alasan orang untuk duduk dan berbincang.
Di warung kopi, rumah, kantor maupun kedai modern, secangkir kopi bisa menjadi teman ketika seseorang memulai pekerjaan atau ruang untuk bertukar cerita.
Karena itu, membicarakan kopi sebenarnya juga berarti membicarakan budaya dan hubungan antarmanusia.
Mengapa Hari Kopi Internasional Penting?
Hari Kopi Internasional bukan hanya ajakan untuk menikmati kopi. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa ada banyak orang yang bekerja di balik minuman tersebut.
PBB menyoroti pentingnya membangun sektor kopi yang lebih adil, tangguh dan berkelanjutan. Hal itu mencakup keberlanjutan penghidupan petani, kondisi kerja, lingkungan serta pembagian nilai yang lebih baik di sepanjang rantai kopi.
Dengan begitu, Hari Kopi Internasional bisa menjadi momentum untuk melihat kopi secara lebih utuh.
Bukan hanya dari aroma yang menguar ketika secangkir kopi baru diseduh, tetapi juga dari perjalanan panjang yang membuat biji kopi tersebut akhirnya sampai ke tangan penikmatnya.
Pada akhirnya, secangkir kopi mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya ada tanah, tanaman, petani, pekerja, perdagangan, budaya dan kehidupan yang saling terhubung. (Ayu/CN/Djavatoday)
I

