Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Aroma kopi dan suara mesin espresso mewarnai halaman Gedung Perpustakaan Ciamis, Selasa (22/9/2026). Di salah satu stan, para peserta pelatihan barista sibuk melayani pengunjung yang datang memesan kopi.
Meski masih menjalani pelatihan, mereka sudah diminta mempraktikkan kemampuan yang diperoleh dari instruktur. Pesanan datang bergantian, sementara para peserta tetap berusaha menjaga racikan dan pelayanan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Ciamis Dase Fadlil Yusdy Mubarak mengatakan, praktik tersebut menjadi salah satu cara melihat sejauh mana peserta mampu menerapkan materi pelatihan.
“Alhamdulillah, peserta yang kami tampilkan di Festival Literasi ini sudah mampu menerapkan apa yang diajarkan instruktur. Ketika antrean pengunjung cukup banyak, mereka juga bisa melayani dan meracik kopi dengan baik,” kata Dase.
Pelatihan barista itu berlangsung selama 23 hari dan diikuti 16 peserta. Latar belakang mereka pun beragam. Ada peserta yang sebelumnya belum memiliki keterampilan sebagai barista, sementara lainnya sudah pernah bekerja dan mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan.
“Jadi ada yang benar-benar belum punya keahlian. Ada juga yang sebelumnya sudah pernah bekerja, tetapi ingin meningkatkan lagi kemampuannya,” ujarnya.
Menurut Dase, pelatihan tersebut tidak hanya memberikan keterampilan meracik kopi. Peserta juga akan mendapatkan dua sertifikat sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja.
Mereka akan memperoleh sertifikat pelatihan kompetensi serta sertifikat sertifikasi profesi sebagai barista.
“Ini menjadi bekal bagi peserta untuk masuk ke dunia kerja maupun berwirausaha. Setelah pelatihan, mereka memiliki kompetensi sekaligus legalitas profesinya,” katanya.
Program tersebut merupakan pelatihan barista batch keempat yang diselenggarakan Disnaker Ciamis. Setelah pelatihan selesai, peserta juga akan diarahkan sesuai dengan rencana masing-masing, termasuk bagi mereka yang ingin bekerja atau membuka usaha sendiri.
“Pasca pelatihan nanti salah satunya ada penyaluran ke penempatan kerja. Sebagian peserta juga ada yang ingin berwirausaha, sehingga kami sesuaikan dengan tujuan masing-masing,” tutur Dase.
Pelatihan ini juga mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat. Dase menyebut program tersebut dibiayai melalui APBN lewat program Kementerian Ketenagakerjaan, bukan dari APBD Kabupaten Ciamis.
“Anggarannya dari APBN melalui program Kemnaker. Dengan kemampuan APBD yang terbatas, kita memang harus mencari peluang seperti ini agar masyarakat Ciamis tetap bisa diberdayakan dan meningkatkan keahliannya untuk mencari kerja,” jelasnya.
Bagi Disnaker, pelatihan semacam ini menjadi salah satu upaya memberikan keterampilan yang bisa langsung digunakan masyarakat. Terlebih, peserta tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga sertifikasi yang dapat menjadi bekal saat mencari pekerjaan.
Dase berharap program pelatihan tersebut bisa terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat Ciamis yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Insyaallah setiap tahun. Kita berharap program seperti ini terus ada dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan, sekaligus memiliki bekal yang jelas ketika masuk dunia kerja,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

