Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di tengah kesejukan pagi di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, aroma khas gula aren yang dimasak di atas tungku kayu bakar tercium semerbak. Di dapur sederhana milik Didi Sardi (46), seorang perajin sekaligus Kepala Dusun Kuta, kegiatan membuat gula aren sudah dimulai sejak sebelum matahari terbit.
Setiap hari, Didi menuangkan lahang atau air nira aren dari lodong bambu ke dalam wajan besar. Proses pengolahan nira menjadi gula aren ini bisa memakan waktu hingga empat jam. Di sela-sela menunggu adonan gula mengental, Didi membuat camilan sederhana namun legendaris: Ewe Deet, kuliner khas yang hanya dikenal masyarakat Kampung Kuta Ciamis.
Ewe Deet dibuat dari kelapa setengah tua yang diiris memanjang, kemudian disiram dengan nira kental atau gula cair panas hasil rebusan aren. Potongan kelapa itu lalu disajikan di dalam batok kelapa sederhana tapi sarat cita rasa tradisional.
“Rasanya manis gurih, kelapanya tidak terlalu muda tapi juga tidak tua, teksturnya renyah. Biasanya saya buat hanya sesekali sambil menunggu gula aren matang,” ujar Didi, saat ditemui di kediamannya belum lama ini.
Menurutnya, Ewe Deet bukan camilan yang dibuat setiap hari. Makanan ini biasanya disajikan hanya sebagai teman menunggu proses pembuatan gula, ditemani secangkir teh hangat atau kopi pahit.
Meski tampilannya sederhana, Ewe Deet memiliki cita rasa khas perpaduan manis dari gula aren dan gurih kelapa segar. Teksturnya yang sedikit renyah membuat camilan ini digemari banyak orang yang pernah mencobanya.
Namun di balik kelezatannya, nama “Ewe Deet” justru memunculkan rasa penasaran. Bagi sebagian orang Sunda, nama itu terdengar cukup nyentrik dan “vulgar”. Tapi bagi warga Kampung Kuta, nama tersebut sudah dikenal turun-temurun tanpa makna negatif.
“Saya juga tidak tahu asal muasal namanya. Dari kecil sudah dengar orang tua bilang namanya ewe deet, ya sudah ikut saja,” ujar Didi sambil tersenyum.
Didi menjelaskan, ada beberapa versi cara membuat Ewe Deet Khas Kampung Kuta Ciamis. Ada yang langsung mencampurkan potongan kelapa ke dalam nira saat masih dimasak hingga menggumpal, ada juga yang menyiram kelapa dengan gula cair sebelum mengeras. Bahkan ada yang menyantap kelapa parut bersama gula aren yang sudah padat.
“Makanan ini bukan makanan pokok, lebih ke selingan saja saat membuat gula aren. Setahu saya, di sini belum ada yang menjualnya,” katanya. (Ayu/CN/Djavatoday)

