Berita Pangandaran (Djavatoday.com),- Kemajuan teknologi terus berkembang pesat, tetapi Yusup (38), warga Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, tetap setia menekuni pekerjaan tradisional sebagai petani daun pandan laut. Di tengah berbagai tantangan, ia berupaya mempertahankan warisan budaya lokal yang kian tergerus zaman.
Setiap pagi, Yusup berangkat ke kebun untuk mengumpulkan daun pandan yang ia beli dari pemilik lahan. Setelah beberapa jam bekerja, ia kembali ke rumah sekitar pukul 10.00 WIB dengan hasil panennya. Sesampainya di rumah, ia langsung membersihkan duri-duri pada daun pandan, memotongnya, dan mengeringkannya dengan telaten sebelum dijual.
Proses ini dilakukan setiap minggu, dan hasilnya dikirim ke luar daerah sebagai bahan baku kerajinan tangan. Namun, belakangan ini, hasil panen semakin berkurang dan harga jual pun terus menurun.
“Hasilnya sekarang lebih sedikit,” keluh Yusup saat membersihkan daun pandan pada Jumat (14/3/2025). Ia hanya mampu mengumpulkan sekitar 8 kilogram per hari.
“Dulu, harga pandan kering bisa mencapai Rp 10 ribu per kilogram, sekarang turun jadi Rp 5 ribu,” tambahnya.
Penurunan harga ini menjadi tantangan berat bagi petani pandan laut seperti Yusup. Proses pengeringan daun pandan membutuhkan tenaga ekstra, mulai dari memanen, menjemur, hingga mengemasnya untuk dijual ke pengepul. Apalagi di bulan Ramadan, kondisi fisiknya lebih mudah lelah.
“Saat puasa begini, badan terasa lemas. Tapi bagaimana lagi? Kami tetap butuh penghasilan,” ungkapnya dengan nada haru.
Meski menghadapi banyak kesulitan, Yusup tetap bersyukur masih bisa bekerja sebagai petani. Ia berharap harga pandan kembali stabil agar para petani kecil dapat hidup lebih sejahtera dan budaya lokal tetap lestari. (Ayu/CN/Djavatoday)

