Ngarumat Hulu Cai Kembali Dihidupkan Warga Sukamulya Ciamis, Rawat Sumber Air dengan Kearifan Leluhur

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di tengah perubahan zaman, warga Dusun Sukamulya, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, memilih kembali menengok cara yang pernah dilakukan para leluhur dalam menjaga sumber air.

Warga bergotong royong membersihkan sebuah sumur di Blok Kalungguhan. Sumber air tersebut berada di kawasan tanah kalungguhan atau tanah milik desa yang selama beberapa waktu mulai jarang dimanfaatkan.

Tak hanya dibersihkan, kawasan di sekitar sumur juga ditata kembali. Sejumlah pohon ditanam dengan harapan keberadaan sumber air tetap terjaga dan lingkungan di sekitarnya mampu menyimpan air dengan baik.

Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar kerja bakti biasa. Di baliknya terdapat upaya menghidupkan kembali tradisi yang dikenal dengan sebutan Ngarumat Hulu Cai.

Pegiat Sejarah dan Budaya Komunitas Cakra Mangsa sekaligus Pegiat Budaya Sukadana, Ahmad Rizki Fauzi, mengatakan Ngarumat Hulu Cai sebenarnya bukan kebiasaan baru. Tradisi tersebut telah dikenal masyarakat terdahulu, tetapi perlahan menghilang karena jarang dilakukan.

“Sumur di Blok Kalungguhan itu berada di tanah milik desa. Karena sudah jarang digunakan, kemudian direstorasi dan dibersihkan. Di sekitarnya juga ditanami pohon-pohon yang baik untuk menjaga sumber air, seperti aren, picung, kemiri, dan jenis pohon lainnya,” ujar Fauzi, Rabu (2/9/2026).

Menurut Fauzi, penanaman pohon menjadi bagian penting dari upaya menjaga sumber air. Bagi masyarakat masa lalu, keberadaan hulu cai tidak hanya dipandang sebagai tempat mengambil air, tetapi juga bagian dari ekosistem yang harus dirawat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Syukuran Lembur Dusun Sukamulya. Warga menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk kembali berkumpul sekaligus merawat lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

“Ini dalam rangka kegiatan Hajat Syukuran Lembur Dusun Sukamulya, Desa Sukadana. Salah satu kegiatannya adalah membersihkan sumber mata air,” kata Fauzi.

Menariknya, apa yang dilakukan warga saat ini ternyata memiliki kemiripan dengan praktik masyarakat pada masa lalu.

Fauzi memperoleh cerita tersebut dari para sesepuh yang masih menyimpan ingatan tentang bagaimana generasi terdahulu memperlakukan sumber air. Pengetahuan itulah yang kemudian menjadi pegangan ketika tradisi Ngarumat Hulu Cai kembali dilakukan.

“Sudah banyak yang tidak tahu, jadi seolah-olah ini merupakan inovasi baru. Padahal menurut para sesepuh, dulu memang seperti ini,” tuturnya.

Kehadiran para sesepuh menjadi penting dalam proses menghidupkan kembali tradisi tersebut. Mereka tidak hanya menceritakan sejarahnya, tetapi juga membantu mengingat kembali tata cara yang pernah dijalankan masyarakat.

“Jadi dalam prosesnya sudah tidak bingung karena ada sesepuh yang sudah mengetahuinya,” ungkap Fauzi.

Sejumlah kebiasaan lama juga berusaha dipertahankan. Salah satunya berkaitan dengan jalur yang dilalui warga ketika menuju dan meninggalkan lokasi sumber air.

“Sekarang tradisi itu direstorasi kembali. Seperti saat berangkat dan pulang melalui jalan yang sama, harus memutar atau mengambil jalur tertentu. Katanya supaya air tidak kembali, atau istilahnya bisi mulang cai. Kemudian ada gotong royong dan prosesinya seperti itu,” jelasnya.

Di balik berbagai tata cara tersebut, Fauzi melihat ada pesan yang lebih besar. Ngarumat Hulu Cai bukan hanya berbicara mengenai tradisi atau ritual, tetapi juga mengajarkan masyarakat untuk menjaga alam secara bersama-sama.

Semangat gotong royong menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Warga tidak hanya membersihkan sumber air, tetapi juga menata lingkungan dan menanam tanaman yang diharapkan dapat membantu mempertahankan keberadaan sumber air.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan persiapan Syukuran Lembur. Di bagian atas sumber air, warga menyiapkan majang, berupa rangkaian dekorasi yang ditempatkan beberapa puluh meter dari lokasi hulu cai.

Panggung juga dipersiapkan. Sementara itu, gugunungan dibuat sebagai bagian dari rangkaian syukuran yang akan dilaksanakan masyarakat.

Syukuran Lembur tersebut memiliki semangat yang serupa dengan tradisi hajat bumi. Kegiatan itu menjadi ruang bagi warga untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memperkuat hubungan sosial di antara masyarakat.

Namun, warga Sukamulya memilih istilah Syukuran Lembur untuk memberi identitas tersendiri sekaligus membedakannya dari tradisi Hajat Bumi Cariu yang juga dikenal di wilayah Sukadana.

Bagi Fauzi, kembalinya Ngarumat Hulu Cai memberikan pesan bahwa menjaga lingkungan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Masyarakat terdahulu telah memiliki pengetahuan lokal untuk merawat sumber air, hanya saja sebagian pengetahuan tersebut sempat terlupakan.

“Sebetulnya bukan hanya satu sumber air, ada beberapa hulu cai lainnya. Ini hanya simbolis. Mata air atau sumur lainnya juga dirawat,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

Klasemen Grup A Liga 2 hingga Pekan Keenam, PSGC Ciamis Masih Tertahan di Posisi 7

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Persaingan Grup A Pegadaian Championship Liga 2 Indonesia 2026/2027 semakin ketat setelah memasuki pekan keenam. PSGC Ciamis masih harus berjuang keras...

Bupati Ciamis Dukung Empat Raperda Inisiatif DPRD, Ini Rinciannya

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mendukung empat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) inisiatif DPRD Kabupaten Ciamis yang dinilai penting untuk menunjang pembangunan daerah,...

Polisi Ungkap Penyalahgunaan Solar Subsidi di Ciamis, Truk Fuso Dimodifikasi Tampung 2.400 Liter

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Praktik dugaan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terbongkar setelah polisi mengamankan sebuah truk...

Polres Ciamis Musnahkan 5.599 Botol Miras, Bupati Siapkan Perda

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Polres Ciamis memusnahkan 5.599 botol minuman keras (miras) dari berbagai merek di halaman Mapolres Ciamis, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). Langkah ini...

Terbaru