Mengenal Wayang Landung Sangkala, Wayang Raksasa Khas Panjalu yang Memukau di Galuh Ethnic Carnival

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Sosok-sosok wayang berukuran raksasa mencuri perhatian ribuan pengunjung saat Galuh Ethnic Carnival (GEC) 2026 digelar di Kabupaten Ciamis. Tubuhnya menjulang tinggi, bergerak lincah mengikuti irama musik tradisional, bahkan sesekali menoleh dan membuka mulut layaknya wayang golek hidup.

Tak sedikit warga yang mengabadikan penampilan tersebut dengan kamera ponsel mereka. Banyak yang penasaran dengan kesenian unik itu. Namanya adalah Wayang Landung Sangkala, sebuah seni helaran khas Panjalu yang memadukan unsur wayang golek, tari, teater, musik, hingga seni pertunjukan modern.

Di balik kemegahannya, Wayang Landung Sangkala menyimpan perjalanan panjang yang berakar dari kreativitas para seniman Ciamis.

Penggagas Wayang Landung Sangkala, Pandu Radea, menceritakan bahwa kesenian tersebut lahir pada tahun 2007. Saat itu, dirinya mendapat kepercayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ciamis untuk menyiapkan konsep pertunjukan dalam Parade Budaya Nusantara di Jembrana, Bali.

Dari pengalaman tersebut, Pandu kemudian mengembangkan sebuah seni helaran baru yang mengambil inspirasi dari karakter wayang golek Sunda.

“Berangkat dari pengalaman itu, saya mengembangkan seni helaran yang mengadopsi unsur wayang golek dan menamainya Wayang Landung. Sebagai ciri khas, kami menggunakan atribut daun kararas yang terinspirasi dari Barong Brutuk Bali,” ujar Pandu Radea.

Menurutnya, penggunaan daun kararas sebenarnya bukan hal baru dalam karya-karyanya. Unsur tersebut pernah digunakan dalam pementasan teater Obor-obor di Nyiar Lumar pada 1998 sebelum akhirnya menjadi identitas utama Wayang Landung.

Wayang Landung Sangkala Lahir dari Kolaborasi Seniman Ciamis

Penampilan perdana Wayang Landung dilakukan di Jembrana, Bali, dengan mengangkat lakon Sabhaparwa yang berkisah tentang Pandawa yang terusir dari kerajaan setelah kalah bermain dadu melawan Kurawa.

Untuk mewujudkan pertunjukan tersebut, Pandu bersama Eman Sastrapradja membentuk Komunitas Sangkala sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin seni.

Para seniman dari berbagai bidang kemudian bergabung. Ada seniman teater, tari, musik tradisional, dalang wayang golek, hingga perupa yang bersama-sama mengembangkan konsep pertunjukan tersebut.

“Setelah tampil di Bali, Wayang Landung semakin dikenal dan memperoleh berbagai penghargaan, baik di tingkat lokal, regional maupun nasional,” katanya.

Keberhasilan itu membuat Wayang Landung Sangkala semakin sering tampil dalam berbagai ajang budaya. Kesenian ini bahkan pernah mewakili Kabupaten Ciamis dalam sejumlah kegiatan di tingkat nasional.

Pandu sendiri dikenal sebagai seniman yang aktif mempromosikan budaya Sunda hingga mancanegara. Ia pernah menjadi duta budaya ke Spanyol pada 2009, Prancis tahun 2010, dan Korea Selatan pada 2011 bersama Wayang Ajen.

Filosofi Perjalanan Hidup dalam Wayang Landung

Berbeda dengan seni helaran pada umumnya, Wayang Landung Sangkala memiliki struktur pertunjukan yang sarat makna filosofis.

Pertunjukan diawali dengan tahap Ngawalan. Pada fase ini dilakukan persiapan spiritual, perakitan wayang, hingga musyawarah menentukan konsep pertunjukan. Tahap tersebut dimaknai sebagai simbol awal kehidupan atau proses kelahiran manusia.

Setelah itu masuk ke tahap Lalampahan, yaitu prosesi arak-arakan Wayang Landung yang menjadi inti seni helaran. Para pemain memanggul wayang dengan berat mencapai 30 kilogram sambil bergerak mengikuti arahan dalang.

Secara filosofis, Lalampahan menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari jati diri dan tujuan hidup.

Tahap berikutnya adalah Magelaran. Pada bagian ini cerita utama dipentaskan dengan mengambil kisah Mahabharata, Ramayana, maupun lakon kreasi baru.

Biasanya pertunjukan diakhiri dengan adegan pertempuran yang menggambarkan perjuangan manusia dalam membedakan kebaikan dan keburukan.

Sementara itu, Jogolan menjadi bagian yang paling interaktif. Dalam segmen ini terjadi duel menggunakan gada berbahan aman yang dapat diikuti pemain maupun penonton.

“Jogolan merupakan simbol perjuangan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” jelas Pandu.

Tahap terakhir disebut Ngampihan, yakni proses membereskan dan menyimpan kembali wayang setelah pertunjukan selesai sekaligus melakukan evaluasi terhadap pementasan yang telah berlangsung.

Tampil Lebih Atraktif di GEC 2026

Pada Galuh Ethnic Carnival 2026, Wayang Landung Sangkala tampil dengan berbagai pembaruan. Karakter wayang kini dapat menoleh, menengadah, hingga membuka mulut mengikuti karakteristik wayang golek Sunda.

Bentuknya pun dibuat lebih ringan sehingga memungkinkan pemain bergerak lebih leluasa saat membawakan adegan tari maupun pertarungan.

“Saya ingin Wayang Landung tidak hanya menjadi seni helaran sesaat, tetapi bisa berkembang menjadi seni pertunjukan yang dipanggungkan secara utuh dengan membawakan lakon wayang,” ujar Pandu.

Dalam penampilannya di GEC 2026, Wayang Landung Sangkala mengangkat lakon Tundung Kala. Cerita tersebut berkisah tentang penculikan Dewi Subadra oleh Kalajingga dan Kala Ijo sebelum akhirnya diselamatkan Arjuna, Gatotkaca, dan Astrajingga.

Cerita itu dikemas secara ringkas dengan memadukan unsur tari, pertarungan, dan komedi sehingga mudah dipahami sekaligus menghibur penonton.

Menurut Pandu, setiap pertunjukan Wayang Landung harus mengedepankan lima prinsip utama, yakni kreatif, adaptif, atraktif, komunikatif, dan edukatif.

Melalui prinsip tersebut, Wayang Landung Sangkala tidak hanya menjadi tontonan yang menarik, tetapi juga sarana memperkenalkan nilai budaya, sejarah, dan filosofi kehidupan kepada masyarakat.

Di tengah derasnya arus budaya modern, kehadiran Wayang Landung Sangkala menjadi bukti bahwa kreativitas seniman daerah mampu melahirkan karya baru tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari Panjalu, kesenian ini terus bergerak membawa identitas budaya Ciamis agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi masa depan. (Ayu/CN/Djavatoday)

Keseruan Anak-anak Berburu Layangan Putus di Ciamis, Menyusuri Sawah hingga Kolam

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Anak-anak berburu layangan putus di Ciamis masih menjadi pemandangan yang mudah ditemukan saat musim kemarau tiba. Di tengah maraknya penggunaan gawai...

PSGC Ciamis Jadi Tim Satelit Persib Bandung, Balad Galuh Setuju Asal Identitas Klub Tak Hilang

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Wacana PSGC Ciamis jadi tim satelit Persib Bandung mulai mendapat dukungan dari kalangan suporter. Balad Galuh, kelompok suporter terbesar PSGC, menyambut...

Pembinaan Atlet Pelajar Ciamis Menuju POPWILDA 2026 Tak Lagi Dadakan, Bakat Dicari Sejak SD

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Pembinaan atlet pelajar Ciamis menuju POPWILDA 2026 kini dilakukan dengan pendekatan yang jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Ciamis mulai...

Wisata Murah dan Worth It di Ciamis Kian Diburu Gen Z, Ini Alasan Jumlah Wisatawan Terus Naik

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Tren perjalanan wisata mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, banyak wisatawan, khususnya dari...

Terbaru