Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di sudut tenang Lingkungan Margasari, Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan/Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri sebuah situs bersejarah yang menyimpan banyak kisah dan kepercayaan lokal: Makam Dalem Patinggi. Bagi sebagian masyarakat Ciamis, tempat ini bukan sekadar makam tua, melainkan pusat spiritual dan budaya yang hidup hingga kini.
Setiap tahun, terutama menjelang Hari Jadi Ciamis dan hari besar Islam, kompleks makam ini ramai diziarahi. Warga datang dengan berbagai niat—berdoa, mengirim tahlil, atau sekadar menenangkan diri di tempat yang diyakini sakral.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, di area makam itu terdapat patilasan Dewi Naganingrum, sosok legendaris yang dipercaya pernah bersemayam di sana. Patilasan ini dianggap sebagai tempat persinggahan sekaligus simbol penghormatan bagi sang Dewi, yang kisahnya lekat dalam tradisi lisan masyarakat Galuh.
Ahmad Mustafa, perwakilan Komunitas Pesantren Ortodok Ciamis, menjelaskan bahwa kisah Dewi Naganingrum telah lama menjadi bagian dari warisan tutur masyarakat Ciamis. Ia disebut sebagai istri Raja Galuh, Prabu Permana Di Kusumah, sekaligus ibu dari Ciung Wanara, tokoh legendaris dalam sejarah kerajaan Galuh.
“Berdasarkan cerita rakyat, Dewi Naganingrum diasingkan setelah terjadi fitnah di istana yang dipicu oleh Dewi Pangrenyep. Dalam pengasingan itu, ia melahirkan Ciung Wanara di tepi Sungai Citanduy,” ujar Ahmad Mustafa, Selasa (14/10/2025).
Masyarakat percaya bahwa tempat pengasingan sekaligus peristirahatan terakhir Dewi Naganingrum berada di sekitar Makam Dalem Patinggi. Karena itu, kawasan tersebut diyakini sebagai patilasan, atau tapak jejak dari sang Dewi yang menjadi simbol kesetiaan dan keteguhan hati.
Lebih jauh, Ahmad Mustafa menuturkan bahwa istilah “Dalem Patinggi” diduga berasal dari gelar kebangsawanan atau jabatan penting pada masa kerajaan. Dalam konteks masa lalu, “patinggi” berarti pemimpin wilayah atau pejabat tinggi kerajaan.
“Nama ini memberi petunjuk bahwa area tersebut dulunya merupakan tempat dimakamkannya tokoh-tokoh penting Kerajaan Galuh, atau para pejabat lokal Ciamis pada masa awal islamisasi,” jelasnya.
Namun, meski memiliki nilai historis yang kuat, Ahmad mengungkapkan bahwa hingga kini belum banyak penelitian akademis yang secara ilmiah mendokumentasikan sejarah dan makna kultural situs ini. Padahal, situs seperti Makam Dalem Patinggi memiliki potensi besar untuk dikaji dari sisi sejarah, arkeologi, maupun antropologi budaya.
Selain nilai historisnya, patilasan Dewi Naganingrum memiliki dua fungsi penting dalam kehidupan masyarakat: fungsi spiritual dan fungsi sosial komunal.
“Secara spiritual, tempat ini menjadi lokasi berdoa dan berziarah. Banyak warga datang untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan keberkahan hidup. Biasanya dilakukan melalui doa bersama, tahlil, atau ritual sederhana yang diisi dengan bacaan-bacaan religius,” terang Ahmad.
Sementara dari sisi sosial, patilasan tersebut menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga. “Biasanya masyarakat berkumpul di sini saat peringatan haul leluhur atau menjelang hari jadi Ciamis. Momen seperti itu bukan hanya ziarah, tapi juga ajang silaturahmi dan memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya daerah,” pungkasnya.
Makam Dalem Patinggi bukan sekadar tempat berziarah, tetapi cermin hubungan harmonis antara masyarakat Ciamis dengan sejarah dan spiritualitas mereka. Di balik kisah Dewi Naganingrum yang turun-temurun, tersimpan pesan moral tentang kesetiaan, ketabahan, dan pentingnya rasa syukur. (Ayu/CN/Djavatoday)

