Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kabar baik datang dari sektor pariwisata Kabupaten Ciamis. Dua desa wisata, yakni Desa Wisata Gunungsari dan Desa Wisata Jalatrang, berhasil menembus 10 besar Desa/Kampung Wisata Jawa Barat dalam ajang Smiling West Java Integrated Tourism Destination Management Award (SWJ-ITDMA) 2026 Pesona Pasundan.
Keduanya kini membawa nama Ciamis dalam persaingan tingkat Jawa Barat. Capaian ini sekaligus membuka peluang bagi dua desa tersebut untuk melangkah ke tahapan berikutnya hingga bersaing di tingkat nasional.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Dian Kusdiana mengatakan, keberhasilan tersebut tidak datang begitu saja. Ada proses pembinaan dan kurasi yang dilakukan sebelum kedua desa ditetapkan sebagai wakil Jawa Barat.
“Alhamdulillah, Kabupaten Ciamis menjadi salah satu daerah yang memiliki wakil terbanyak. Ada dua desa, yaitu Desa Wisata Jalatrang dan Desa Wisata Gunungsari,” kata Dian saat ditemui di Kantor Dinas Pariwisata Ciamis, Senin (10/8/2026).
Menurut Dian, masuknya dua desa wisata Ciamis ke jajaran 10 besar menunjukkan potensi pariwisata daerah mampu bersaing dengan desa wisata dari kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat.
Penilaian juga tidak hanya melihat potensi yang dimiliki desa. Pengelolaan hingga kesiapan desa wisata turut menjadi bagian dari proses kurasi.
“Secara administratif sudah teruji. Proses kurasinya juga sudah berlangsung sekitar dua bulan lalu. Kemudian baru diluncurkan sebagai wakil Provinsi Jawa Barat untuk tingkat nasional,” ujarnya.
Dian mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari pola pembinaan yang melibatkan banyak pihak. Dinas Pariwisata Ciamis menggunakan pendekatan collaborative government dalam mengembangkan desa wisata.
Pemerintah desa dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pola tersebut. Selain itu, unsur akademisi, pelaku usaha, media, budayawan, seniman hingga praktisi juga dilibatkan sesuai kebutuhan.
Dengan pola ini, pengembangan desa wisata tidak sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah daerah. Potensi dan kemampuan masyarakat setempat menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah pengembangan.
“Polanya menggunakan collaborative government. Jadi pengembangan desa wisata tidak banyak menggunakan APBD, tetapi disesuaikan dengan keinginan masyarakat, kemampuan, serta potensi yang ada,” tutur Dian.
Saat ini, Dinas Pariwisata Ciamis memiliki sekitar 10 hingga 11 desa yang masuk dalam pembinaan. Keberhasilan Gunungsari dan Jalatrang diharapkan bisa menjadi pemantik bagi desa wisata lainnya.
“Ini menjadi kado Agustusan bagi Bupati dan Dinas Pariwisata. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu bentuk keberhasilan peran kolaboratif,” katanya.
Dinas Pariwisata Ciamis pun tidak ingin berhenti pada dua desa tersebut. Sejumlah desa lain mulai dipersiapkan agar dapat mengikuti jejak Gunungsari dan Jalatrang.
Salah satunya Desa Selamanik yang sebelumnya telah lolos kurasi tingkat nasional dalam program Muslim Friendly Tourism.
“Awalnya pembinaan dimulai dari Cibeureum dan Selamanik. Selamanik kemudian lolos kurasi nasional Muslim Friendly Tourism. Selanjutnya desa-desa lain akan kami coba bina supaya bisa berprestasi,” ujar Dian.
Menurutnya, pembinaan desa wisata memang membutuhkan proses bertahap. Targetnya bukan hanya memenangkan perlombaan, tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan hingga desa mampu naik kelas.
Saat ini, sebagian besar desa wisata di Ciamis masih berada pada kategori rintisan dan berkembang. Berdasarkan data Dinas Pariwisata, terdapat sekitar 46 desa wisata berstatus rintisan dan 11 desa berstatus berkembang.
Sementara untuk kategori maju dan mandiri, Ciamis belum memiliki desa wisata yang masuk dalam dua tingkatan tersebut.
“Yang maju belum ada, mandiri juga belum ada karena cukup berat. Tetapi kami sedang mengupayakan pada tahun berikutnya bisa melompat ke status maju,” jelasnya.
Di balik banyaknya potensi wisata yang dimiliki, Dian menyebut pengembangan desa wisata masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah membangun kekuatan komunitas lokal.
Menurutnya, masyarakat harus menjadi penggerak utama. Tanpa keterlibatan warga, potensi yang ada di desa akan sulit berkembang secara berkelanjutan.
“Yang paling berat adalah bagaimana komunitas lokal bergerak. Harus ada komunitas yang bisa menggerakkan secara swadaya pengembangan potensi pariwisata dan daya tarik yang ada,” katanya.
Dian menilai orientasi pengembangan desa wisata juga tidak semata-mata soal pendapatan. Ada tanggung jawab untuk merawat potensi, mengembangkan daya tarik dan memastikan manfaat pariwisata bisa dirasakan masyarakat.
“Kalau mengembangkan desa wisata tanpa komunitas lokal yang kuat, yang mau bergerak dan tidak hanya berorientasi pada pendapatan, itu berat,” ujarnya.
Karena itu, Dinas Pariwisata Ciamis kini mendorong desa-desa dengan komunitas lokal yang kuat untuk menjadi bagian dari prioritas pembinaan.
Harapannya, desa wisata di Ciamis perlahan mampu tumbuh dengan kekuatan sendiri. Bukan terus bergantung pada bantuan atau stimulan anggaran pemerintah.
“Yang paling berat adalah membentuk bagaimana desa wisata ini bisa berjalan tanpa ada stimulan atau anggaran,” pungkas Dian. (Ayu/CN/Djavatoday)

