Berita Banjar (Djavatoday.com),- Di sudut sibuk pertigaan Jalan Nasional Kota Banjar, berdiri sebuah tugu yang seharusnya memancarkan kebanggaan, Tugu Adipura. Dulunya, monumen ini menjadi lambang keberhasilan kota dalam menjaga kebersihan dan lingkungan—prestasi yang diraih tujuh kali berturut-turut sejak tahun 2013. Namun kini, yang tersisa hanyalah simbol usang yang tampak dilupakan.
Jika diamati, bagian bawah tugu itu sudah keropos, dengan besi penyangga yang mulai berkarat. Ornamen yang dulunya berkilau kini seakan kehilangan makna. Padahal, letaknya sangat strategis—menjadi salah satu titik pertama yang dilihat pengunjung saat melintasi kota. Sayangnya, justru di titik inilah wajah Kota Banjar terlihat tak terurus.
Tak sedikit warga yang merasa miris. Salah satunya adalah Andi Maulana, warga setempat yang menyuarakan kekecewaannya.
“Kota ini sudah tujuh kali dapat Adipura. Tapi tugu yang jadi simbol keberhasilan itu malah dibiarkan rusak. Di mana konsistensi antara penghargaan dan kenyataan?” ujarnya, Rabu (9/4/2025).
Bagi sebagian orang, kondisi tugu Adipura Banjar ini bukan hanya soal estetika semata, tapi mencerminkan bagaimana infrastruktur publik dirawat—atau lebih tepatnya, diabaikan. Bukankah sebuah penghargaan seharusnya menjadi pemicu untuk terus memperbaiki, bukan malah berhenti pada euforia?
Pertanyaan pun mulai muncul: bagaimana pengelolaan anggaran perawatan selama bertahun-tahun ini? Apakah ada alokasi dana untuk menjaga monumen seperti Tugu Adipura? Ataukah, seperti yang dikhawatirkan banyak warga, piala-piala itu hanya jadi kebanggaan di ruang rapat dan dinding kantor pemerintah?
Andi melanjutkan, “Kalau lambang kota saja tak terurus, bagaimana dengan aset publik lain yang mungkin tak terlihat mata? Jangan sampai penghargaan hanya berhenti di tingkat birokrasi, tanpa menyentuh kehidupan warga.”
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Banjar mengenai rencana perbaikan tugu tersebut. Diamnya pihak berwenang justru memperkuat kesan bahwa masalah ini belum menjadi prioritas.
Padahal, warga tak menuntut hal muluk-muluk. Mereka hanya ingin simbol kejayaan kota bisa kembali mencerminkan semangat dan kerja keras yang dulu mengantarkan Banjar meraih Adipura berkali-kali. Sebab prestasi tak semestinya hanya hadir dalam bentuk piagam atau piala, tapi juga dalam tindakan nyata. (Diana/CN/Djavatoday)

