Berita Banjar (Djavatoday.com),- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menyinggung gagasannya tentang pembentukan generasi unggul di Jawa Barat. Hal itu disampaikan Dedi usai melaksanakan Salat Idul Adha di Masjid Al Hikmah, Desa Mekarharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Rabu (27/5/2026).
Dalam sambutannya di hadapan warga, Dedi menggunakan istilah “maung” untuk menggambarkan karakter masyarakat dan pemimpin yang kuat, tangguh, serta memiliki daya saing.
“Bangsa maung itu kalau pemimpinnya maung dan rakyatnya juga maung,” ujar Dedi.
Ia kemudian menjelaskan, hubungan antara pemimpin dan masyarakat harus berjalan seimbang. Menurutnya, kepemimpinan tidak akan berjalan baik apabila hanya salah satu pihak yang kuat.
“Kalau pemimpinnya maung tapi rakyatnya kambing, rakyat habis dimakan. Sebaliknya kalau rakyatnya maung, pemimpinnya kambing, tidak akan lama memimpinnya,” katanya.
Karena itu, Dedi mengaku ingin membentuk sumber daya manusia unggul melalui dunia pendidikan. Salah satu langkah yang kini mulai didorong Pemprov Jawa Barat ialah menghadirkan Sekolah Maung, yakni sekolah unggulan bagi siswa berprestasi.
Menurut Dedi, sekolah tersebut disiapkan agar anak-anak yang memiliki kemampuan akademik baik dapat berkembang dalam lingkungan yang kompetitif dan positif.
“Anak-anak pintar dikumpulkan supaya bisa berkembang dan saling berkompetisi,” ucapnya.
Ia menilai selama ini banyak siswa berprestasi justru kesulitan berkembang karena bercampur dengan lingkungan yang kurang mendukung.
“Kalau anak pintar disatukan dengan anak nakal itu repot. Yang nakal tidak ikut pintar, malah yang pintar terbawa nakal,” katanya.
Dedi juga mengaku prihatin dengan kondisi lingkungan sekolah saat ini. Ia menyebut banyak perilaku negatif justru dikenali anak-anak dari lingkungan pendidikan.
“Sekarang banyak pelajaran buruk didapat di sekolah. Yang tidak pernah berkelahi jadi tahu berkelahi di sekolah,” ujarnya.
Ia bahkan mencontohkan pengalaman anaknya yang mulai mengenal kata-kata kasar dari lingkungan sekolah.
Menurut Dedi, kondisi tersebut bisa dipicu banyak faktor, mulai dari kurangnya pengawasan hingga beban administrasi guru yang terlalu besar sehingga perhatian terhadap siswa menjadi berkurang.
“Bisa jadi guru terlalu fokus administrasi pembelajaran, atau jumlah murid terlalu banyak. Masalahnya macam-macam,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini mulai melakukan berbagai pembenahan secara bertahap, termasuk melalui program pembinaan disiplin berbasis semi militer untuk menekan kenakalan remaja dan tawuran pelajar.
“Ada program barak militer dan sebagainya. Sekarang sudah mulai turun, tidak seramai waktu awal saya menjabat,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

