Hari Kesetaraan Perempuan Nasional menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang perempuan dalam memperoleh hak, kesempatan, dan ruang yang setara dalam berbagai bidang kehidupan.
Kesetaraan bukan berarti menghapus perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Lebih dari itu, kesetaraan berarti memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berkarya, menentukan pilihan, dan membangun masa depan.
Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan kesetaraan perempuan masih menjadi perhatian. Perempuan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari akses terhadap pendidikan, kesempatan bekerja, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, hingga perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Hari Kesetaraan Perempuan Nasional dan Perjuangan Kesetaraan Gender
Peringatan Hari Kesetaraan Perempuan Nasional dapat menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan yang adil tidak cukup hanya melalui slogan. Kesetaraan perlu diwujudkan dalam kebijakan, pendidikan, lingkungan kerja, keluarga, maupun kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan menjadi salah satu pintu penting untuk membuka kesempatan bagi perempuan. Ketika perempuan memperoleh akses pendidikan yang baik, mereka memiliki bekal untuk mengembangkan kemampuan, membangun kemandirian, sekaligus mengambil peran lebih besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Kesempatan yang sama juga perlu hadir di dunia kerja. Perempuan memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam berbagai profesi dan bidang usaha. Karena itu, lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi dan memberikan ruang untuk berkembang menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesetaraan.
Persoalan kesetaraan juga tidak dapat dipisahkan dari perlindungan terhadap perempuan. Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa upaya perlindungan dan pemenuhan hak perempuan masih membutuhkan perhatian serius. Ruang aman bagi perempuan harus dibangun secara bersama-sama, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, tempat kerja maupun masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, perempuan terus menunjukkan perannya dalam pembangunan. Dari lingkungan keluarga, pendidikan, ekonomi, pemerintahan hingga kegiatan sosial, kontribusi perempuan semakin terlihat dan memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat.
Partisipasi perempuan dalam pembangunan juga perlu ditempatkan secara setara. Kesetaraan mencakup hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang seimbang terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan.
Karena itu, Hari Kesetaraan Perempuan Nasional dapat dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama. Upaya tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga keluarga, lembaga pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Pada akhirnya, kesetaraan perempuan bukan sekadar tentang siapa yang berada di depan. Kesetaraan berbicara tentang kesempatan agar setiap perempuan dapat belajar, bekerja, berkarya, menyampaikan pendapat, serta mengambil keputusan tanpa dibatasi oleh diskriminasi.
Semangat Hari Kesetaraan Perempuan Nasional dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menghargai pendapat perempuan, memberikan kesempatan yang sama, membagi tanggung jawab secara adil, serta menolak segala bentuk kekerasan merupakan langkah nyata untuk membangun lingkungan yang lebih setara.
Dengan demikian, kesetaraan tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Semangat tersebut dapat tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga perempuan dan laki-laki dapat berjalan bersama, saling menghargai, dan mengambil peran dalam membangun keluarga, masyarakat, serta bangsa. (Ayu/CN/Djavatoday)

