Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Cara unik dilakukan warga Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, untuk melunasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Mereka tak perlu lagi repot mencari uang tunai. Cukup panen pisang dari pekarangan rumah, hasil penjualannya langsung disetorkan untuk membayar pajak.
Program inovatif ini dikenal dengan nama “Papais” (Bayar Pajak Pakai Pisang). Sejak digulirkan Pemerintah Desa Kertabumi pada tahun 2024, program ini sukses meringankan beban masyarakat sekaligus meningkatkan kepatuhan warga dalam membayar PBB.
Robi, salah satu warga setempat, mengaku kini tak lagi khawatir saat waktu pembayaran pajak tiba. Pohon pisang Usuk yang ditanam di sekitar rumahnya menjadi sumber penghasilan tambahan yang stabil.
“Ini saya bayar pajak dari hasil jual pisang. Pajak saya Rp37 ribu, pisang saya laku Rp45 ribu, jadi masih ada sisa Rp8 ribu,” kata Robi sambil tersenyum, Rabu (29/10/2025).
Ia menuturkan, program Papais sangat membantu. Warga yang dulunya harus menyisihkan uang dari hasil bertani kini bisa membayar pajak dengan hasil panen sendiri.
“Alhamdulillah, program ini bikin ringan. Nggak bingung lagi mikir uang buat pajak,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Solihin, warga lainnya. Tahun ini ia memanen dua tandan pisang Usuk dan langsung menjualnya untuk membayar PBB.
“Hasil panen saya sekitar 17 kilogram, cukup buat bayar pajak dan masih sisa Rp100 ribu buat kebutuhan rumah,” ungkapnya.
Kepala Desa Kertabumi, Kusmana, menjelaskan bahwa program Papais diluncurkan sebagai bentuk inovasi desa untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperlancar pembayaran pajak daerah.
“Kami jalankan konsep satu KK satu pohon pisang. Benihnya kami bagikan gratis ke warga lewat program ketahanan pangan. Hasil panen dari pohon itulah yang digunakan untuk bayar PBB,” jelasnya.
Benih pisang Usuk dibagikan langsung oleh pemerintah desa dan ditanam di pekarangan rumah warga. Selain menumbuhkan kemandirian ekonomi, program ini juga memperindah lingkungan desa dengan deretan pohon pisang yang tumbuh subur.
Kusmana menambahkan, sejak program Papais diterapkan, tingkat pembayaran PBB di Kertabumi meningkat signifikan. Hampir seluruh warga kini membayar pajak tepat waktu tanpa beban.
“Alhamdulillah, PBB di Desa Kertabumi jadi lancar. Program ini membantu warga sekaligus membantu pemerintah dalam meningkatkan pendapatan daerah,” tuturnya.
Program Papais menjadi contoh nyata bahwa ide sederhana bisa berdampak besar jika dikelola dengan baik. Melalui pisang Usuk yang tumbuh di halaman rumah, warga tidak hanya bisa memenuhi kewajiban pajak, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi desa.
Desa Kertabumi kini dikenal bukan hanya karena produktivitas pertaniannya, tetapi juga karena inovasi pajaknya yang inspiratif—membayar PBB dengan hasil bumi sendiri, dari rakyat untuk rakyat. (Andra/CN/Djavatoday.com)

