Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Suasana pagi di Obyek Wisata Situ Wangi, Kecamatan Kawali, Ciamis, terasa berbeda pada Sabtu (22/11/2025). Bunyi gong yang ditabuh menjadi tanda dimulainya perhelatan Damar Larung, sebuah festival budaya yang kembali hadir untuk kedua kalinya tahun ini. Momentum tersebut sekaligus membuka rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga malam hari.
Tahun ini, Damar Larung mengangkat tema “Nyaah Kaalam”, yang bermakna “Menyayangi Alam”. Tema tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi dihadirkan melalui beragam kegiatan yang merefleksikan kepedulian lingkungan serta upaya merawat identitas budaya lokal. Festival ini digagas oleh Pokdarwis Prabu Wangi, Desa Winduraja, sebagai bagian dari penguatan pariwisata berbasis masyarakat.
Salah satu ciri khas Damar Larung adalah prosesi melarung damar—obor kecil berbahan serabut kelapa yang dibentuk menyerupai bunga teratai—ke permukaan danau. Ritual ini menjadi simbol penghormatan kepada alam sekaligus penanda harapan bagi keselamatan masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, melalui sekretaris dinas Dian Kusdiana, S.I.P., M.M., menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini merupakan contoh praktik pariwisata berkelanjutan.
“Damar Larung adalah bentuk nyata sustainable tourism yang mengutamakan keselarasan manusia dan alam. Pelaksanaan kegiatan seperti ini mampu mendongkrak sektor pariwisata serta menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Dian.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memfasilitasi festival yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Dengan begitu, potensi wilayah dapat berkembang lebih optimal dan manfaatnya dirasakan langsung oleh warga sekitar.
Sejak pagi hingga petang, berbagai agenda digelar untuk meriahkan Damar Larung 2025. Kegiatan tersebut meliputi pembukaan acara, gerakan penanaman pohon, pentas seni religi, pelayanan kesehatan, donor darah, hingga pemberian santunan bagi anak yatim dan warga lanjut usia.
Saat malam menjelang, prosesi inti festival dimulai. Masyarakat berkumpul untuk mengikuti ibadah bersama sebelum damar dilabuhkan ke danau. Cahaya damar yang bergerak perlahan di permukaan air menciptakan pemandangan magis yang kemudian ditutup dengan pagelaran seni budaya dan doa bersama hingga larut malam.
Damar Larung bukan sekadar agenda tahunan, tetapi bentuk komitmen masyarakat Ciamis dalam menjaga hubungan harmonis dengan alam sekaligus melestarikan tradisi leluhur. Dengan semakin banyaknya dukungan dan partisipasi warga, festival ini diharapkan mampu menjadi ikon budaya yang menarik wisatawan dan menguatkan identitas daerah. (Ayu/CN/Djavatoday)

