Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di balik tenangnya suasana Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, tersimpan kisah panjang tentang awal mula pemerintahan di wilayah tersebut. Nama Raden Suraita Kusumadinata masih disebut-sebut sebagai tokoh penting yang diyakini menjadi pemimpin pertama di kawasan Munjul dan Buniseuri pada masa lampau.
Cerita itu hidup dari generasi ke generasi. Warga mengenalnya sebagai sosok yang dipercaya memimpin wilayah yang dulu disebut Kabupaten Ciancang, sebuah daerah pecahan dari Kerajaan Galuh sebelum kemudian kedudukannya diturunkan oleh Kerajaan Mataram.
Tokoh penggiat sejarah Buniseuri, Cucu Ginanjar, menuturkan bahwa Raden Suraita bukanlah sosok biasa. Ia disebut sebagai Ngabehi atau setingkat wedana yang memiliki kewenangan cukup luas di zamannya.
“Raden Suraita ini dipercaya oleh Kerajaan Galuh untuk memimpin wilayah Buniseuri, Munjul dan sekitarnya. Kedudukannya setara wedana, jadi wilayah kekuasaannya cukup besar,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Meski belum ada catatan pasti mengenai tahun kepemimpinannya, kisah tentang Raden Suraita tetap bertahan melalui cerita lisan masyarakat. Dari sanalah jejak sejarah itu terus dirawat, meski waktu telah berjalan jauh.
Salah satu penanda yang masih bisa ditemui hingga kini adalah makamnya. Terletak di Tempat Pemakaman Umum Dusun Namas, makam tersebut menjadi saksi bisu keberadaan tokoh yang pernah memimpin wilayah ini.
“Makamnya masih ada sampai sekarang. Itu jadi bukti penting bahwa beliau benar-benar bagian dari sejarah Buniseuri,” kata Cucu.
Bagi warga, keberadaan makam itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga pengingat akan akar sejarah yang membentuk daerah mereka hari ini. Di tengah perkembangan zaman, cerita tentang Raden Suraita menjadi pengikat antara masa lalu dan masa kini.
Cucu berharap, kisah-kisah seperti ini tidak berhenti pada generasi sekarang. Ia ingin generasi muda ikut mengenal dan menjaga sejarah lokal yang menjadi identitas daerahnya.
“Sejarah seperti ini jangan sampai hilang. Ini bagian dari jati diri masyarakat Buniseuri,” pungkasnya. (Andra/CN/Djavatoday)

