Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di tengah berbagai keterbatasan, SDN 3 Cipaku yang terletak di Desa Cipaku, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, terus berjuang memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat sekitar. Dengan jumlah siswa yang minim dan kondisi bangunan yang memprihatinkan, semangat belajar mengajar tak pernah padam di sekolah dasar negeri ini.
Sekolah yang berdiri di tengah permukiman warga dengan empat RT ini hanya memiliki 41 siswa aktif dari kelas 1 hingga kelas 6. Bahkan, pada tahun ajaran baru 2025/2026, jumlah peserta didik baru yang masuk hanya tujuh orang. Jumlah ini menurun dibanding dua tahun sebelumnya, di mana sekolah hanya menerima lima hingga enam siswa baru tiap tahun ajaran.
Kepala SDN 3 Cipaku, Dewi Rahayu, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Meski demikian, pihak sekolah tetap menjalankan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seperti biasa selama lima hari.
“Memang jumlahnya tidak banyak, tapi bagi kami ini sudah wajar. Kami tetap berusaha maksimal memberikan pendidikan terbaik bagi siswa yang ada,” ujar Dewi, Rabu (16/7/2025).
Letak sekolah yang sebenarnya cukup strategis—berada di pinggir jalan desa—tak serta-merta menjamin tingginya angka pendaftaran siswa baru. Dewi menyebut bahwa mayoritas warga sekitar merupakan lansia, sementara generasi muda lebih banyak merantau ke kota. Akibatnya, jumlah anak usia sekolah di lingkungan tersebut pun sangat terbatas.
“Banyak warga yang usia produktif tinggal di kota, anak-anak mereka juga sekolah di sana. Di sini memang tidak banyak anak-anak,” tambahnya.
Selain minim siswa, kondisi fisik bangunan sekolah pun cukup memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas tak memiliki daun pintu, atap beberapa ruangan terlihat lapuk dan bocor, bahkan satu ruangan terpaksa dikosongkan karena dikhawatirkan roboh akibat kerusakan parah.
Meski begitu, semangat para siswa tetap menyala. Mereka mengikuti kegiatan belajar dengan antusias, bahkan terlihat ceria saat pelajaran olahraga di halaman sekolah. Dewi menilai, jumlah siswa yang sedikit justru membuka ruang lebih luas untuk memberikan pendidikan yang lebih personal dan berkualitas.
“Dengan murid yang sedikit, guru bisa lebih fokus. Hasilnya, anak-anak mampu menunjukkan prestasi. Tahun ini saja, salah satu siswa kami meraih juara 2 lomba MTQ tingkat kecamatan,” jelasnya bangga.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran sekolah dasar di daerah pelosok. Menurutnya, eksistensi SD bukan semata-mata soal kuantitas murid, tetapi bagaimana negara hadir memberikan akses pendidikan dasar yang merata bagi seluruh warga.
“Kami di sini tidak hanya mengajar, tapi juga menjaga harapan. Jangan sampai hanya karena tidak ada sekolah, anak-anak di daerah kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

