Sakral dan Sarat Makna, Kirab Mahkota Binokasih Digelar di Astana Gede Kawali Ciamis

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Prosesi Kirab Mahkota Binokasih digelar khidmat di Situs Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis, Senin (20/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali jejak sejarah Tatar Galuh sekaligus meneguhkan identitas budaya Sunda di tengah perkembangan zaman.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis Dian Budiyana, Sekretaris Dinas Pariwisata Dian Kusdiana, budayawan, tokoh masyarakat, hingga perwakilan Keraton Sumedang Larang. Kehadiran mereka menambah makna sakral dalam prosesi kirab yang sarat nilai sejarah itu.

Dilansir dari Visit Ciamis, Mahkota Binokasih bukan sekadar benda pusaka. Dalam catatan sejarah, mahkota ini merupakan peninggalan penting dari masa Kerajaan Sunda, yang dibuat pada masa pemerintahan Sanghyang Bunisora Suradipati, Raja Galuh pada abad ke-14. Benda tersebut menjadi simbol yang menghubungkan perjalanan panjang dari Kerajaan Galuh hingga Pajajaran, lalu berlanjut ke Sumedang Larang.

Dalam perjalanannya, Mahkota Binokasih diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun dari Kerajaan Sumedang Larang. Penyerahan itu bukan sekadar simbolis, melainkan menjadi penegasan legitimasi bahwa Sumedang Larang adalah penerus sah kejayaan Pajajaran.

Perwakilan Keraton Sumedang Larang menegaskan bahwa nilai mahkota tersebut melampaui kepemilikan wilayah. “Mahkota ini bukan hanya milik Keraton Sumedang Larang, tetapi milik seluruh masyarakat Sunda. Sejarahnya berawal dari Kerajaan Galuh,” ujarnya.

Kirab ini tidak hanya menghadirkan nuansa seremoni, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nama “Binokasih” sendiri memiliki makna filosofis yang dalam, yakni penuh kasih sayang dan kebaikan yang nyata. Nilai ini diharapkan menjadi cerminan bagi para pemimpin agar menjalankan amanah dengan kebijaksanaan dan kepedulian terhadap rakyat.

“Mahkota ini menyimbolkan legitimasi masyarakat Sunda sekaligus mengandung nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga,” lanjut perwakilan keraton.

Bagi masyarakat, Mahkota Binokasih memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai pengingat akan kejayaan masa lalu yang sarat makna. Para peneliti, sejarawan, hingga masyarakat umum kerap menjadikan mahkota ini sebagai simbol untuk menelusuri kembali akar budaya Sunda.

Melalui kirab ini, nilai-nilai sejarah diharapkan tidak sekadar dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Mahkota Binokasih menjadi penanda bahwa identitas budaya tetap harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

Pedagang Cilok Tertabrak Kijang Super di Jalan Sudirman Ciamis

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Sebuah Toyota Kijang Super menabrak gerobak cilok di Jalan Jenderal Sudirman, Lingkungan Cibeureum, Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Sabtu (12/9/2026)....

Dua King Kobra Sembunyi di Tumpukan Kayu, Pegawai Pabrik Ciamis Kaget

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Dua ekor king kobra membuat pegawai sebuah pabrik penggergajian kayu di Dusun Bojongnangoh, Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, terkejut, Sabtu...

PSGC Ciamis Gagal Curi Poin di Kandang Persikad Depok

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- PSGC Ciamis mengawali Liga 2 musim 2026/2027 dengan kekalahan. Bertandang ke Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu (12/9/2026) malam, Laskar Singacala takluk 1-2...

Ratusan Penari Meriahkan Festival Jaipongan di Karangkamulyan Ciamis

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Ratusan penari dari berbagai daerah di Jawa Barat memeriahkan Festival Tari Tradisional, khususnya Jaipongan, yang digelar di Amphiteater Pusat Budaya Karangkamulyan,...

Terbaru