Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Ade Suryaman (54), seorang perajin kolang-kaling di Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, mengalami lonjakan pesanan selama bulan suci Ramadan 1446 H. Namun, produksi hariannya kini dibatasi hanya 25 kilogram, berbeda dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 kilogram per hari.
Dibantu oleh empat pekerja perempuan, Ade Suryaman mengolah buah aren menjadi kolang-kaling melalui beberapa tahapan. Buah aren terlebih dahulu direbus hingga mendidih untuk menghilangkan getahnya. Setelah itu, buah dikupas menggunakan pisau hingga diperoleh biji kolang-kaling yang siap diolah lebih lanjut.
Ade mengungkapkan bahwa keterbatasan produksi ini disebabkan oleh semakin langkanya buah aren. Banyak pohon aren yang telah ditebang, sementara tanaman ini hanya berbuah sekali seumur hidupnya.
“Sekarang pohon aren di sekitar sini semakin sedikit. Kami hanya mengandalkan empat pohon yang tersisa, dan diperkirakan bahan baku ini hanya cukup sampai hari ke-15 Ramadhan,” jelasnya, Jumat (7/3/2025).
Ia menambahkan bahwa meskipun permintaan setiap hari tetap ada, pihaknya sengaja membatasi produksi agar stok tetap tersedia hingga beberapa hari ke depan. Jika pasokan di Linggasari habis, ia berencana mencari buah aren dari wilayah lain seperti Panawangan.
Saat ini, harga kolang-kaling di tingkat pengepul masih bertahan di angka Rp 8.000 per kilogram, sama seperti tahun sebelumnya. Namun, di pasar, harga bisa mencapai Rp 16.000 per kilogram.
Warga Ciamis ini telah menekuni usaha jadi perajin kolang-kaling selama kurang lebih 25 tahun. Ia mengenang bahwa pada tahun 1992, harga kolang-kaling masih sekitar Rp 125 per kilogram, jauh berbeda dari harga saat ini. (Ayu/CN/Djavatoday)

