Berita Ciamis (Djavatoday.com),- MTs Janggala yang berada di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis, memperkuat pengawasan terhadap siswa sebagai langkah antisipasi kenakalan remaja. Upaya tersebut dilakukan menyusul kebijakan pembatasan jam malam bagi pelajar yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pihak sekolah menilai pengawasan terhadap pelajar tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua, masyarakat, hingga aparat keamanan. Karena itu, MTs Janggala mulai membangun sinergi lintas sektor untuk memperkuat pembinaan terhadap siswa.
Kepala MTs Janggala, Dhiagus Merti Pagede mengatakan, sekolah mendukung penuh aturan pembatasan aktivitas pelajar pada malam hari, khususnya mulai pukul 21.00 WIB hingga 04.00 WIB. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mencegah pelajar terjerumus dalam pergaulan negatif.
“Kami berupaya membentengi siswa dari pengaruh buruk di luar sekolah. Karena itu, pembinaan sekarang kami perkuat dengan melibatkan berbagai pihak,” ujar Dhiagus.
Ia menjelaskan, sekolah telah menggandeng Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Cidolog untuk memberikan edukasi secara berkala kepada siswa. Pembinaan tersebut akan dilakukan rutin setiap satu hingga tiga bulan sekali.
“Nantinya siswa akan mendapatkan pemahaman dari sisi hukum, keamanan, hingga kesehatan. Jadi pendekatannya bukan hanya dari sekolah, tapi juga dari unsur lain,” katanya.
Selain pembinaan formal, MTs Janggala juga menerapkan pendekatan spiritual bagi siswa yang dinilai membutuhkan pengawasan lebih intensif. Sekolah bekerja sama dengan pondok pesantren setempat untuk membina siswa yang mulai terpengaruh lingkungan pergaulan bebas.
“Kami juga bekerja sama dengan orang tua. Ada siswa yang dibina di pesantren supaya lebih fokus belajar dan terhindar dari lingkungan negatif. Penggunaan handphone maupun kendaraan juga dibatasi,” jelas Dhiagus.
Tak hanya itu, pihak sekolah bersama komite dan forum orang tua murid mulai memetakan sejumlah titik yang dianggap rawan menjadi tempat berkumpulnya pelajar pada malam hari. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kontrol sosial di lingkungan masyarakat.
Dhiagus menilai peran masyarakat sangat penting dalam menjaga perilaku generasi muda. Ia berharap warga tidak segan mengingatkan atau membubarkan kerumunan pelajar yang masih berkeliaran pada malam hari.
“Guru memiliki keterbatasan waktu pengawasan. Karena itu kami berharap orang tua dan masyarakat ikut peduli. Kalau ada pelajar nongkrong sampai larut malam, sebaiknya diingatkan,” tegasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, MTs Janggala berharap dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan kondusif, sekaligus membentuk generasi muda yang disiplin dan berkarakter. (Ayu/CN/Djavatoday)

