Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Suasana kebersamaan dan semangat pelestarian tradisi kembali menghidupkan Desa Cisontrol, Kabupaten Ciamis, dalam perhelatan tahunan Ngarumat Lembur yang kini memasuki tahun kedua. Mengusung tema “Merawat Lembur, Menjaga Kahuripan”, acara puncak digelar pada Minggu (11/5) di Masjid Al Muhsiniin, Kubang, dengan partisipasi berbagai elemen masyarakat serta kehadiran tokoh adat dan bangsawan dari Kesultanan Kanoman Cirebon.
Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi budaya dan kepedulian lingkungan yang berpadu dalam harmoni. Di antara rangkaian acaranya terdapat Ngarak Cai Kahuripan, Ngahiukeun Cai Kahuripan, pembacaan Babad Cisontròl, doa bersama, hingga aksi nyata penanaman pohon di sekitar mata air utama desa.
Simbol keharmonisan manusia dan alam diperkuat oleh kehadiran Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran dari Kesultanan Kanoman Cirebon. Ia secara langsung ikut menanam pohon aren di tujuh sumber mata air utama, sebuah langkah konkret sekaligus simbolis dalam menjaga warisan alam dan budaya leluhur.
“Pohon adalah lambang kemakmuran, sementara air adalah sumber kehidupan,” ujar Mumu, Ketua Harian PERMATA LINGGA. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bentuk tanggung jawab lintas generasi.”
Mumu juga menyoroti potensi besar Desa Cisontrol sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Ia berharap ada sinergi antarlembaga di lingkup Kabupaten Ciamis untuk mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
Semangat gotong royong telah terasa sejak 1 Mei, ditandai dengan berbagai aksi sosial bertajuk Ngarumat — mulai dari perbaikan jalan, saluran air, lapangan, taman, hingga makam. Acara Tahlil Akbar pun digelar sebagai bagian dari refleksi spiritual dan kebersamaan warga.
H. Duleh, Ketua Umum Persatuan Pesantren Ortodok (PPO), menyebut kegiatan ini sebagai bentuk syiar Islam yang berpadu dengan pelestarian budaya.
“Melestarikan tradisi adalah bagian dari nilai-nilai Islam. Ini bukan sekadar seremoni, tapi upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya,” tegasnya.
Kegiatan Ngarumat Lembur terbuka untuk umum dan menjadi momen penting dalam mempertegas identitas Desa Cisontròl sebagai penjaga budaya Sunda. Kolaborasi antara masyarakat, tokoh adat, dan pihak kerajaan memberi warna tersendiri dalam upaya menjadikan desa ini sebagai pionir pelestarian alam dan pengembangan wisata budaya di wilayah Priangan Timur. (CN/Djavatoday)

