Mengenal GACCORS, Gerakan Cinta Organik dari Ciamis yang Menjawab Krisis Pertanian

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia selama bertahun-tahun dinilai menjadi penyebab rapuhnya sistem pertanian nasional. Berangkat dari keprihatinan ini, sekelompok praktisi dan petani di Kabupaten Ciamis membentuk GACCORS, singkatan dari Gabungan Aksi Ciamis Cinta Organik Sejati.

“Pertanian kita terus dicekoki bahan kimia, tapi hasilnya stagnan, bahkan menurun. Kami ingin mengubah pola pikir itu,” ujar Alik Sutaryat, praktisi pertanian organik sekaligus penggagas GACCORS.

Didirikan sekitar delapan bulan lalu, GACCORS kini telah mengembangkan 23 hektare lahan percontohan organik yang tersebar di 17 kecamatan, melibatkan 46 petani yang tergabung secara swadaya. Hasilnya tak main-main, rata-rata produksi mencapai 9 ton gabah per hektare—angka yang mengungguli rerata nasional yang kian menurun.

Menurut Alik, metode yang diterapkan GACCORS bukan sekadar bebas dari bahan kimia, tetapi berlandaskan pengelolaan terpadu tanah, tanaman, dan air. Mereka juga mengangkat kembali kearifan lokal sebagai basis praktik agrikultur.

“Kami tidak setengah hati. Ini pendekatan organik yang menyeluruh, bukan hanya soal produk, tapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan pemberdayaan,” tegasnya.

Cerita Inspiratif Gerakan Cinta Organik di Ciamis

Salah satu kisah inspiratif datang dari H. Udin, petani anggota GACCORS yang berhasil memproduksi 100 ton kompos sendiri. Bahkan, ia kini memasok kebutuhan pupuk organik ke petani lain. Dengan hanya menambahkan dua ton bahan organik untuk setiap hektare lahan yang menghasilkan 10 ton jerami, sistem ini mendorong kemandirian petani secara nyata.

Meski terbukti berhasil, Alik menilai perubahan ini tak bisa berjalan sendiri. Peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dalam hal pelatihan dan pendampingan. Hingga kini, baru 46 petani yang terlatih, dan belum ada pelatihan berskala luas atau training of trainers.

“Kalau ingin transformasi cepat, kaderisasi petani organik harus segera dilakukan. Bukan hanya lewat penyuluh, tapi dari akar rumput—petani sendiri. Karena perubahan sejati dimulai dari pemahaman yang benar,” tegasnya.

Melalui kolaborasi erat antara pemerintah daerah dan pelaku pertanian organik, Kabupaten Ciamis diharapkan mampu menjadi pionir pertanian berkelanjutan yang berbasis ekologi dan kearifan lokal. Bukan hanya menjaga ketahanan pangan, tapi juga menjadi model inspiratif bagi daerah lain di Indonesia. (Ayu/CN/Djavatoday)

Dua Jamaah Haji Asal Ciamis Wafat di Tanah Suci, Kemenhaj Urus Santunan Ahli Waris

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kementerian Haji dan Umrah memastikan dua jamaah haji asal Kabupaten Ciamis yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi...

Jejak Leluhur Galuh Hidup dalam Tradisi Ziarah Hari Jadi Ciamis

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Pagi itu, suasana di kawasan makam leluhur Galuh di Ciwahangan Girang, Desa Imbanagara, Kecamatan Ciamis, tak lagi lengang seperti hari-hari biasa....

Empat Kasus Anak Tenggelam di Ciamis, BPBD Ingatkan Bahaya Arus Bawah

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Ciamis kembali dihadapkan pada rentetan peristiwa memilukan. Dalam waktu hanya empat hari, empat anak meninggal dunia akibat tenggelam di sejumlah lokasi...

Sedang Memasak, Warga Ciamis Dikejutkan Kemunculan Biawak di Dapur

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Aktivitas memasak yang awalnya berjalan biasa mendadak berubah menegangkan bagi Dewi Anisa (26), warga Dusun Ciakar Hilir, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku,...

Terbaru