Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Harga singkong di wilayah Kabupaten Ciamis mengalami penurunan drastis di tengah musim panen raya yang berlangsung di Kecamatan Baregbeg dan Cijeungjing. Komoditas andalan para petani ini kini hanya dihargai Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram di tingkat pengepul.
Kondisi ini dikeluhkan oleh Aris, seorang petani asal Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeungjing. Menurutnya, harga singkong saat ini tidak sebanding dengan lamanya masa tanam yang bisa mencapai sembilan bulan.
“Beberapa waktu lalu harganya masih di kisaran Rp1.500 per kilogram. Sekarang malah turun drastis, hanya Rp700 per kilo. Ini sangat merugikan petani,” ujar Aris, Minggu (1/6/2025).
Aris menduga melimpahnya hasil panen menjadi salah satu faktor anjloknya harga di pasaran. Ia menilai, situasi semacam ini kerap terjadi saat musim panen tiba dan belum ada solusi nyata dari pihak terkait.
“Setiap panen raya, harga pasti jatuh. Kami berharap ada kebijakan atau langkah konkret agar harga bisa stabil, minimal Rp2.500 per kilogram supaya petani tidak merugi,” katanya.
Untuk mengurangi kerugian, Aris memilih mengolah sebagian hasil panen menjadi gaplek. Menurutnya, harga jual gaplek relatif lebih menguntungkan, yakni sekitar Rp2.500 per kilogram.
Namun, proses pembuatan gaplek tidak instan. Singkong harus dikupas satu per satu, lalu dijemur hingga benar-benar kering, yang bisa memakan waktu sekitar satu minggu tergantung cuaca.
“Kalau cuaca mendukung, penjemuran bisa selesai dalam seminggu. Tapi kalau mendung atau hujan, bisa lebih lama,” jelasnya.
Aris juga berharap pemerintah daerah, khususnya melalui dinas pertanian, tidak hanya memberikan bimbingan teknis terkait penanaman, tetapi juga hadir memberikan solusi saat panen raya.
“Kami butuh dukungan nyata, bukan hanya teori. Pemerintah harus hadir ketika petani kesulitan memasarkan hasil panen mereka,” tegasnya. (Andra/CN/Djavatoday)

