Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Warga Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, kembali menggelar tradisi Hajat Bumi, sebuah prosesi adat sebagai wujud syukur atas berkah dan rezeki yang diterima sepanjang tahun. Tradisi yang rutin digelar setiap awal bulan Muharam ini menjadi momen penting yang sarat makna kebersamaan dan pelestarian budaya.
Salah satu ciri khas dari tradisi ini adalah penyembelihan kambing kendit, yaitu kambing berwarna hitam dengan garis putih melingkar di bagian tengah tubuhnya. Usai disembelih, daging kambing tersebut dimasak dan disantap bersama seluruh warga, melambangkan nilai kebersamaan serta kesejahteraan bersama.
Prosesi Hajat Bumi berlangsung selama tiga hari tiga malam, diawali dengan penyembelihan kambing kendit dan berbagai pertunjukan seni tradisional khas Desa Jagabaya. Di puncak acara, masyarakat berkumpul di depan Kantor Desa Jagabaya, lalu bersama-sama berjalan menuju Situs Gunung Dukuh Jagabaya dengan membawa aneka sesaji seperti tumpeng, buah-buahan, kopi, bubur, dan makanan tradisional lainnya.
Sesaji tersebut kemudian ditempatkan di makam sesepuh desa, salah satu tokoh penyebar ajaran Islam di wilayah Jagabaya. Di situs ini, warga melaksanakan doa bersama dan tawasulan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang berjasa dalam penyebaran agama Islam serta pembangunan desa.
“Tradisi ini sudah kami lakukan secara turun-temurun. Waktunya pun tidak sembarangan, ada hitungan hari tertentu di bulan Muharam yang dipercaya membawa kebaikan. Jika dilaksanakan di hari yang keliru, masyarakat percaya bisa berdampak buruk,” ujar Sutadi, penjaga atau kuncen Situs Gunung Dukuh Jagabaya, Sabtu (5/7/2025).
Menurut Sutadi, tradisi Hajat Bumi tidak hanya sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi momentum mengenang sejarah masuknya ajaran Islam ke Desa Jagabaya yang diperkirakan terjadi pada 1 Muharam 1040 Hijriah. Selain itu, tradisi ini juga bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam.
“Banyak jasa para leluhur yang patut kita ingat, mereka bukan hanya menyebarkan agama Islam, tetapi juga membangun dan membuka Desa Jagabaya hingga seperti sekarang,” katanya.
Masyarakat Jagabaya yang mayoritas berprofesi sebagai petani juga memaknai Hajat Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi, pertanian, dan perkebunan yang mereka peroleh selama setahun terakhir.
Tak hanya ritual doa dan makan bersama, pelestarian budaya lokal pun menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Salah satunya adalah seni tayub, yang turut dilestarikan dalam setiap perayaan, lengkap dengan tiga lagu wajib yakni Titipati, Golewang, dan Rajapulang.
Sementara itu, Sekretaris Desa Jagabaya, Syarif, menjelaskan bahwa Hajat Bumi sudah menjadi agenda tahunan resmi yang tercatat di Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, dilaksanakan secara turun-temurun, dan alhamdulillah membawa banyak hikmah serta mempererat persaudaraan antarwarga,” tutupnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

