Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis berencana menggabungkan (merger) sejumlah sekolah dasar (SD) yang lokasinya berdekatan. Kebijakan tersebut disiapkan sebagai langkah mengatasi minimnya jumlah murid di beberapa sekolah sekaligus menyiasati kekurangan tenaga guru.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, mengatakan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 secara umum berjalan lancar. Namun, hasil penerimaan menunjukkan masih ada beberapa SD yang hanya mendapatkan satu peserta didik baru.
“Alhamdulillah pelaksanaan SPMB tahun ini relatif lancar. Memang ada beberapa sekolah yang siswanya sangat sedikit, tetapi yang paling penting bagi kami adalah memastikan seluruh anak usia sekolah tetap mendapatkan layanan pendidikan,” kata Erwan, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, sedikitnya jumlah murid bukan berarti pelayanan pendidikan akan dikurangi. Disdik tetap menjamin setiap anak memperoleh hak belajar, meski jumlah siswa di sekolah tersebut sangat minim.
Erwan menegaskan, orang tua memiliki kebebasan memilih tempat pendidikan bagi anak, baik di SD negeri, SD swasta, maupun Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tugas pemerintah, kata dia, adalah memastikan layanan pendidikan tersedia dengan baik.
“Orang tua bebas memilih sekolah untuk anaknya. Kami hanya memastikan pelayanan pendidikan berjalan maksimal. Kalaupun ada kekurangan, itu menjadi bahan evaluasi kami. Bahkan jika muridnya hanya satu orang, tetap kami layani sebaik mungkin,” ujarnya.
Meski demikian, Disdik Ciamis tengah mengevaluasi sejumlah sekolah yang berada dalam satu kawasan untuk kemungkinan digabung. Kebijakan itu bukan semata karena jumlah siswa yang sedikit, melainkan juga akibat keterbatasan tenaga pendidik.
“Saat ini kami sedang mengkaji beberapa sekolah yang lokasinya berdekatan untuk kemungkinan digabung. Salah satu pertimbangannya karena Kabupaten Ciamis masih kekurangan guru,” jelas Erwan.
Berdasarkan data Disdik, kebutuhan guru ASN jenjang SD dan SMP di Kabupaten Ciamis mencapai 8.541 orang. Sementara jumlah guru yang tersedia saat ini baru sekitar 6.145 orang, sehingga masih terdapat kekurangan sebanyak 2.396 guru.
Meski demikian, rencana merger tidak akan diterapkan secara menyeluruh. Sekolah yang berada jauh dari sekolah lain tetap akan dipertahankan meski jumlah muridnya sedikit agar akses pendidikan tetap mudah dijangkau masyarakat.
“Kalau lokasinya berjauhan tentu tidak akan kami gabungkan. Pelayanan pendidikan harus tetap dekat dengan masyarakat. Jadi meskipun muridnya hanya satu orang, kalau tidak ada sekolah lain yang dekat, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan,” tegasnya.
Disdik Ciamis juga telah memetakan sejumlah sekolah yang berpotensi digabung. Namun, keputusan akhir masih mempertimbangkan berbagai aspek, terutama jarak tempuh siswa usia dini.
“Kalau sekolahnya berada dalam satu halaman, kemungkinan bisa segera digabung. Tetapi kalau jaraknya sekitar 100 hingga 200 meter masih kami kaji, karena kami juga memikirkan anak-anak kelas satu agar tidak kesulitan berjalan lebih jauh,” katanya.
Erwan menambahkan, minimnya jumlah murid di beberapa sekolah bukan dipengaruhi kondisi bangunan. Menurutnya, faktor persebaran penduduk dan pilihan masyarakat dalam menentukan sekolah menjadi penyebab utama.
“Bukan karena kondisi sekolahnya. Ada wilayah yang jumlah anak usia sekolah meningkat, ada juga yang menurun. Selain itu, masyarakat juga memiliki pilihan sendiri dalam menyekolahkan anaknya,” jelasnya.
Di akhir keterangannya, Erwan mengajak seluruh masyarakat ikut berperan memastikan tidak ada anak usia sekolah yang tertinggal dari pendidikan.
“Kami mengajak masyarakat membantu mencari anak-anak usia 6 sampai 7 tahun yang belum bersekolah. Di mana pun sekolahnya, yang terpenting mereka mendapatkan hak untuk belajar dan tidak terlambat masuk sekolah,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

