Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Pagi baru saja dimulai di Jalan RE Martadinata, Blok Unigal, Desa Baregbeg. Di bawah sebuah saung kecil di tepi jalan, seorang pria paruh baya sudah duduk rapi dengan peralatan sederhana di hadapannya. Jarum sol, benang tebal, dan lem menjadi teman setianya setiap hari.
Dialah Muhtar, yang akrab disapa Bah Tarsan (61). Selama 15 tahun terakhir, ia menggantungkan hidup dari pekerjaan yang kian jarang dilirik orang—menjadi tukang sol sepatu.
Tangannya terampil menembus sol sepatu yang aus. Sesekali ia berhenti, merapikan jahitan, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan telaten. Di tempat sederhana itu, sepatu-sepatu lama kembali punya umur.
“Sudah 15 tahun saya jadi tukang sol sepatu. Sekarang pilih menetap di sini supaya pelanggan mudah datang,” ujarnya pelan.
Dulu, Bah Tarsan berkeliling menawarkan jasanya dengan sepeda motor. Namun usia yang tak lagi muda membuatnya memilih berhenti berpindah-pindah. Ia membangun saung kecil di pinggir jalan dan menunggu pelanggan datang.
Dalam sehari, ia bisa memperbaiki sekitar lima pasang sepatu. Sebagian besar adalah sepatu olahraga yang solnya mulai rusak. Untuk setiap pasang, ia mematok tarif sekitar Rp20 ribu.
Pekerjaannya dimulai sejak pukul 07.00 pagi. Hingga menjelang siang, ia tetap setia di tempat itu, menunggu siapa saja yang datang membawa sepatu yang butuh diperbaiki.
Bagi Bah Tarsan, pekerjaan ini tidak membutuhkan modal besar. Cukup alat sederhana dan ketelatenan.
“Modalnya tidak besar, yang penting telaten. Tidak seperti dagang yang butuh modal banyak,” katanya.
Namun dari pekerjaan sederhana itu, ia mampu membangun kehidupan. Tiga anaknya berhasil ia besarkan hingga dewasa. Kini, tujuh cucu telah melengkapi perjalanan hidupnya.
“Alhamdulillah, dari kerja ini bisa menyekolahkan anak sampai menikah,” ucapnya dengan senyum tipis.
Profesi ini bukan sekadar pekerjaan baginya. Ini adalah warisan dari orang tuanya, yang terus ia jalani hingga kini. Di tengah derasnya perubahan zaman, Bah Tarsan tetap bertahan, menjahit harapan dari setiap sepatu yang ia perbaiki.
Di pinggir jalan itu, ia membuktikan bahwa kesederhanaan, jika dijalani dengan sabar dan tekun, tetap bisa menghidupi. (Andra/CN/Djavatoday)

