Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Pemerintah Desa Mekarsari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, menargetkan produksi pisang nangka sebanyak 1.800 kilogram dalam satu kali panen sepanjang tahun depan. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Kepala Desa Mekarsari, Tarjo, mengungkapkan, Desa Mekarsari yang lahir dari pemekaran Desa Buniseuri pada 1982 kini telah berstatus sebagai Desa Mandiri. Sebuah pencapaian yang menurutnya bukan hasil kerja instan.
“Untuk mencapai status Desa Mandiri tentu tidak mudah. Butuh perjuangan dan sinergi dengan seluruh elemen masyarakat dalam melaksanakan program-program desa,” ujar Tarjo, Senin (28/4/2025).
Salah satu strategi untuk mempertahankan status ini, lanjut Tarjo, adalah program ketahanan pangan berbasis budidaya pisang nangka. Program ini menggerakkan satu kepala keluarga (KK) untuk menanam setidaknya satu pohon pisang.
“Di Desa Mekarsari ada sekitar 1.400 KK. Target kami, dari budidaya ini bisa menghasilkan minimal 1.800 kilogram buah dalam satu kali panen. Ini akan menjadi tambahan penghasilan bagi warga,” katanya.
Untuk efektivitas, pohon-pohon pisang tersebut tidak ditanam tersebar di setiap rumah, melainkan dikelompokkan di lahan-lahan produktif di tingkat RT. Tarjo juga mendorong warga untuk memanfaatkan lahan kosong milik pribadi agar tidak terbengkalai.
Hasil Panen Pisang untuk Bantu Bayar Pajak
Hasil panen pisang nantinya akan dikumpulkan di masing-masing RT. Penjualannya akan dikelola secara kolektif, dan uang hasil penjualan masuk ke kas RT. Dana tersebut, kata Tarjo, bisa digunakan sebagai modal usaha warga sekaligus untuk membantu pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
“Harapannya, warga tidak lagi menunggak bayar PBB. Sekaligus, warga punya modal usaha dari hasil jerih payah sendiri,” ujarnya.
Hingga saat ini, menurut Tarjo, dari 32 RT yang ada, rata-rata sudah memiliki kas RT sekitar Rp2 juta. Uang ini sebagian besar berasal dari hasil panen pisang pertama.
Namun, Tarjo menekankan bahwa buah pisang hasil panen tidak untuk dijual keluar desa. Ia ingin hasil bumi ini diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti keripik pisang dan berbagai olahan lain, agar nilai ekonominya terus berlipat.
“Kita ingin agar warga tidak hanya menjual hasil panen, tapi juga mengolahnya menjadi produk yang bisa menambah penghasilan. Jadi, hasilnya berlipat, dan ekonomi desa makin kuat,” tutupnya. (Andra/CN/Djavatoday)

