Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Sejak resmi diluncurkan pada 11 Juni 2024, layanan panggilan darurat 112 di Kabupaten Ciamis belum sepenuhnya dimanfaatkan sesuai tujuan. Alih-alih menerima laporan darurat, layanan ini justru sering menjadi sasaran telepon iseng, berupa prank call maupun ghost call.
Baiqa Munggaran, operator Layanan Darurat 112 Ciamis, mengungkapkan bahwa jumlah panggilan iseng jauh lebih banyak dibandingkan laporan darurat sesungguhnya. Dalam satu pekan, dari total 35 panggilan yang masuk, sekitar 30 di antaranya merupakan panggilan palsu atau tanpa suara.
“Banyak yang mengaku hendak melaporkan kebakaran, tetapi saat ditanya lokasi, malah menjawab di Tasikmalaya. Padahal layanan ini khusus untuk wilayah Ciamis,” kata Baiqa kepada wartawan, Sabtu (26/4/2025).
Meski didominasi prank call, Baiqa tetap memberikan pelayanan kepada setiap penelepon. Beberapa laporan serius seperti evakuasi ular, sarang tawon, gangguan listrik, dan kecelakaan tetap ditindaklanjuti dengan menghubungkan ke instansi terkait seperti BPBD, Damkar, kepolisian, dan PLN.
Untuk meminimalkan gangguan, sistem layanan 112 telah dilengkapi fitur pelacakan nomor. Baiqa mengatakan, nomor-nomor yang sering melakukan prank biasanya ditandai dalam sistem, meski untuk pemblokiran penuh tetap membutuhkan prosedur tambahan.
“Mayoritas penelepon iseng ini terdengar seperti anak-anak. Setelah melapor palsu, terdengar suara tawa di belakang,” ujarnya.
Layanan Darurat 112 Ciamis Belum Digunakan Masif
Senada dengan Baiqa, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Ciamis, Hendri Ridwansyah, membenarkan maraknya prank call di layanan 112. Menurutnya, hampir setiap malam operator menerima panggilan palsu.
“Contohnya, kemarin ada laporan pohon tumbang di Cigembor. Setelah ditelusuri, ternyata tidak ada kejadian seperti itu,” jelas Hendri.
Ia menambahkan, layanan 112 memang belum digunakan secara masif oleh warga. Dalam satu shift, operator biasanya menerima 5 hingga 10 panggilan. Namun, Hendri menilai, sedikitnya laporan tidak selalu berarti layanan kurang efektif.
“Bisa jadi memang tidak ada kondisi darurat, atau masyarakat lebih memilih menghubungi langsung instansi terkait seperti Damkar atau polisi. Yang penting, pemerintah sudah menyediakan layanan ini,” tambahnya.
Untuk meningkatkan pemanfaatan, Diskominfo Ciamis terus melakukan sosialisasi melalui media sosial dan berbagai platform komunikasi. Saat ini, sebanyak delapan operator bertugas secara bergiliran dalam tiga shift, memastikan layanan 112 aktif 24 jam setiap hari. (Ayu/CN/Djavatoday)

