Berita Banjar (Djavatoday.com),- Aktivitas ekonomi di pasar tradisional Kota Banjar semakin lesu. Suasana yang dulunya ramai kini berubah menjadi lengang, mencerminkan meredupnya roda usaha warga.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Pasar Tradisional Banjar, namun juga merambah ke pasar lainnya seperti Pasar Langkaplancar, Bojongkantong, dan Langensari. Banyak kios tutup, sementara pedagang yang masih bertahan mengeluhkan menurunnya jumlah pembeli.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (KUKMP) Kota Banjar, Sri Sobariah, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, dari total sekitar 1.700 pedagang yang berjualan di berbagai pasar tradisional di Kota Banjar, sekitar 20 persen telah menghentikan aktivitas jual belinya.
“Dari total 1.700 pedagang yang menempati kios dan los, sekitar 20 persen di antaranya sudah tutup, terutama di Pasar Banjar,” ujar Sri Sobariah, Jumat (12/7/2025).
Ia menilai, kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor. Dampak berkepanjangan dari pandemi COVID-19 serta perkembangan teknologi yang semakin pesat turut mempercepat pergeseran perilaku konsumen dari belanja langsung ke belanja daring.
“Persaingan dengan penjualan online menjadi tantangan besar. Masyarakat sekarang cenderung memilih belanja secara digital karena dinilai lebih praktis dan efisien,” katanya.
Guna merespons situasi ini, pemerintah mulai mendorong para pedagang pasar tradisional untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memperkenalkan strategi pemasaran digital kepada para pelaku usaha.
“Melalui pelatihan digital marketing, kami bantu pedagang memanfaatkan media sosial, website, dan platform online lainnya agar tetap bisa bersaing dan meningkatkan omzet penjualan,” tambahnya.
Langkah ini diharapkan mampu memulihkan aktivitas ekonomi pasar sekaligus menjaga keberlangsungan pasar tradisional sebagai pusat ekonomi kerakyatan di Kota Banjar. (Diana/CN/Djavatoday)

