Berita Banjar (Djavatoday.com),- Perlintasan kereta api di Desa Balokang, Kota Banjar, Jawa Barat, yang kerap memakan korban jiwa akhirnya dipasangi palang pintu. Pemasangan ini dilakukan usai insiden tragis yang menewaskan Saimun (70), seorang pedagang mainan yang tertemper KA Kutojaya Selatan saat melintas di perlintasan tanpa pengamanan.
Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi warga sekitar. Tak butuh waktu lama, pemerintah desa bersama masyarakat bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari 24 jam, portal dan garis kejut dipasang sebagai langkah awal pengamanan.
Sekretaris Desa Balokang, Dadang Saryanto, mengungkapkan bahwa palang pintu sebenarnya telah dibuat sejak enam bulan lalu atas inisiatif pemerintah desa dan usulan warga. Namun, belum dapat difungsikan karena keterbatasan anggaran untuk membayar penjaga palang.
“Awalnya kami pasang di sisi selatan, tetapi sempat ditabrak hingga rusak. Lalu kami pindahkan ke utara, sempat patah juga, namun sudah kami las ulang, dan siang tadi kembali terpasang,” jelas Dadang, Selasa (29/7/2025).
Menurut Dadang, persoalan utama kini ada pada teknis penjagaan palang pintu. Anggaran desa dinilai belum cukup untuk merekrut petugas khusus. Ia juga menyinggung aturan dalam Permenhub No. 94 Tahun 2018, yang menyatakan bahwa perlintasan kereta di jalan kabupaten/kota maupun desa menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
“Kami bingung secara kewenangan. Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah kota, risikonya tetap ada. Kami sudah lakukan yang kami mampu,” tegasnya.
Perlintasan KA di Balokang bukanlah satu-satunya titik rawan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, masih ada ratusan perlintasan serupa di desa dan kota kecil yang belum memiliki pengamanan memadai. Tragedi di Balokang diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk lebih serius menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang. (Diana/CN/Djavatoday)

