Minggu ini menandai peluncuran Assassin’s Creed Shadows, salah satu proyek terbesar Ubisoft dalam lima tahun terakhir.
Game ini membawa pemain ke era Jepang feodal dalam sebuah petualangan epik dengan anggaran besar—sebuah langkah baru dalam seri Assassin’s Creed yang selama ini lebih sering berlatar di Eropa atau Timur Tengah.
Sejak trailer perdananya dirilis hampir setahun yang lalu, Assassin’s Creed Shadows telah menjadi pusat kontroversi, terutama karena kehadiran Yasuke sebagai salah satu karakter utama.
Yasuke adalah sosok samurai kulit hitam yang diambil dari catatan sejarah, tetapi pemilihannya sebagai tokoh sentral dalam game ini mendapat banyak kritik.
Sebagian menyoal keakuratan sejarah dan mempertanyakan apakah Yasuke benar-benar seorang samurai, sementara lainnya secara terang-terangan menolak keberadaan karakter kulit hitam dalam cerita berlatar Jepang feodal.
Banyak yang membandingkan kehadirannya dengan Jin Sakai, protagonis dari Ghost of Tsushima, yang dianggap lebih “sesuai” karena merupakan karakter Jepang asli.
Fenomena ini sejalan dengan tren anti-DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) yang semakin meluas di internet dan bahkan mulai mendapatkan legitimasi di kalangan politik Amerika Serikat.
Kritik yang awalnya sebatas perdebatan akademis tentang sejarah kini berkembang menjadi gerakan masif yang menargetkan game ini secara keseluruhan.
Dan seperti yang sering terjadi dalam kasus serupa, dampaknya juga merambat ke individu-individu yang terlibat dalam pengembangannya.
Ubisoft Bersiap Menghadapi Ancaman dan Pelecehan
Ubisoft tampaknya menyadari potensi risiko yang bisa terjadi pasca-peluncuran Assassin’s Creed Shadows.
Laporan terbaru dari BFMTV Kanada mengungkap bahwa perusahaan telah mengambil langkah-langkah preventif untuk melindungi para pengembangnya dari serangan daring.
Menurut sumber anonim dari dalam Ubisoft, para pegawai telah diberikan arahan untuk tidak mengungkapkan pekerjaan mereka di media sosial guna menghindari pelecehan.
Bahkan, perusahaan dikabarkan telah menyusun rencana perlindungan khusus, termasuk bekerja sama dengan Communications Security Establishment Kanada—badan keamanan komunikasi nasional—untuk menangani ancaman dan gangguan yang mungkin muncul.
Langkah ini juga mencakup dukungan psikologis dan bantuan hukum bagi karyawan yang menjadi sasaran pelecehan.
Bagi sebagian orang, langkah Ubisoft ini mungkin terlihat berlebihan.
Namun, kasus serupa telah terjadi berkali-kali, terutama terhadap pengembang game yang karyanya dianggap “terlalu woke” atau terlalu pro-DEI.
Beberapa individu dalam industri game pernah mengalami serangan pribadi dalam berbagai bentuk.
Termasuk penggiringan opini negatif, serangan daring yang terkoordinasi, hingga eksploitasi foto dan identitas mereka dalam video YouTube yang bernada provokatif.
Tak jarang, atribut pribadi seperti kaos bertuliskan slogan progresif, penggunaan kata ganti yang eksplisit, atau bahkan warna rambut tertentu dalam dokumentasi pengembangan menjadi alasan bagi kelompok anti-DEI untuk menjadikan seseorang sebagai sasaran serangan.
Mereka dianggap sebagai bagian dari masalah yang “merusak” industri game modern.
Dampak Jangka Panjang bagi Ubisoft dan Industri Game
Masih belum jelas apakah seluruh pegawai Ubisoft akan mengikuti saran perusahaan untuk menghindari eksposur di media sosial.
Namun, dinamika ini mencerminkan realitas baru dalam industri game, di mana para pengembang kini harus lebih berhati-hati dalam membagikan informasi tentang pekerjaan mereka karena ancaman pelecehan yang semakin sistematis.
Selain itu, reaksi terhadap Assassin’s Creed Shadows juga akan menjadi tolok ukur bagi Ubisoft dalam menghadapi proyek-proyek mendatang.
Yasuke tetap menjadi karakter utama dalam cerita ini, dan bagaimana publik menerima kehadirannya bisa menjadi cerminan dari tren industri ke depan.
Tak hanya itu, kasus serupa mungkin akan kembali muncul dalam waktu dekat.
Salah satu game yang berpotensi menghadapi respons serupa adalah Ghost of Yotei, yang akan menampilkan protagonis perempuan, sebuah perubahan signifikan dari game sebelumnya yang menampilkan karakter utama laki-laki.
Game ini berlatar di periode sejarah yang berbeda dari Ghost of Tsushima, tetapi perubahan karakter utama ini kemungkinan besar akan memicu kembali perdebatan seputar DEI dalam industri game.
Seiring dengan semakin kuatnya gerakan anti-DEI di berbagai platform, serangan terhadap game-game yang dianggap mendukung keberagaman tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Amerika Serikat, sebagai salah satu pasar utama industri game, kini menjadi medan pertempuran ideologi, di mana perusahaan-perusahaan seperti Ubisoft harus menavigasi lanskap yang semakin kompleks antara kreativitas, kebijakan bisnis, dan tekanan sosial.
Apapun respons terhadap Assassin’s Creed Shadows, yang jelas adalah bahwa setiap langkah dalam memperkenalkan karakter dan narasi yang lebih inklusif akan terus mendapat tantangan dari kelompok-kelompok tertentu.
Namun, apakah industri game akan tetap melangkah maju atau tunduk pada tekanan ini? Jawabannya mungkin akan kita lihat dalam beberapa tahun ke depan.

