“Olo”; Warna Baru yang Belum Pernah Dilihat Manusia

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia mungkin telah menyaksikan spektrum warna yang sebelumnya tak terjangkau oleh mata manusia—termasuk sebuah warna biru-hijau dengan kejenuhan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Warna ini bukan sekadar langka. Ia benar-benar tidak bisa kita lihat—setidaknya, secara alami. Warna ini eksis dalam ruang warna yang tidak bisa diakses oleh sistem penglihatan manusia.

Namun kini, tim peneliti dari University of California, Berkeley, dan University of Washington telah mengembangkan sebuah teknologi revolusioner yang memungkinkan manipulasi sistem retina manusia, sehingga memperluas jangkauan warna yang dapat kita lihat—melampaui batas alamiah indera penglihatan kita.

Teknologi ini, yang dijuluki sebagai prototipe “Oz”—mungkin terinspirasi dari cerita klasik The Wizard of Oz—dirancang untuk membuka mata kita terhadap dunia warna yang selama ini tersembunyi, ibarat Dorothy yang melangkah dari Kansas ke dunia penuh warna Oz.

Apa yang membuat teknologi ini begitu luar biasa adalah kemampuannya untuk mengubah cara sinyal warna disampaikan antar sel mata, hingga ke otak.

Pola aktivasi saraf yang diciptakan oleh prototipe ini tidak mungkin tercapai dalam kondisi penglihatan biasa.

Menyentuh Kon Sel dengan Laser

Biasanya, setiap warna yang kita lihat merupakan hasil dari stimulasi berbagai jenis sel kerucut (cone cells) di retina—dengan total lebih dari enam juta sel. Manusia normal adalah trikomatik: kita memiliki tiga tipe cone cells, masing-masing sensitif terhadap panjang gelombang cahaya panjang (L), sedang (M), dan pendek (S).

L cone menangkap warna merah, M cone menangkap hijau, dan S cone menangkap biru. Ketika sinyal dari ketiga tipe ini digabungkan, otak membentuk spektrum warna yang kita kenal sehari-hari.

Namun, secara alami, tidak ada panjang gelombang cahaya yang hanya mengaktifkan M cones saja tanpa memengaruhi L atau S.

Di sinilah prototipe Oz melakukan terobosan: dengan menyinari hanya M cone menggunakan cahaya laser hijau monokromatik, para peneliti menciptakan sinyal warna yang tidak biasa—sebuah pesan visual yang sepenuhnya asing bagi otak manusia.

Menatap Warna yang Tak Terdefinisikan

Dalam eksperimen awal, tiga partisipan diminta untuk menatap latar abu-abu netral sementara sinar laser hijau diarahkan langsung ke M cones mereka.

Hasilnya sungguh mencengangkan—warna yang mereka lihat tidak dapat diklasifikasikan dalam kategori merah, hijau, atau biru.

Bahkan saat diberi pilihan untuk mencampur ketiga warna tersebut, mereka tidak mampu merekonstruksi warna yang dilihat.

Untuk bisa mendekatinya, mereka harus menambahkan cahaya putih dalam jumlah besar, hanya agar saturasinya turun.

Warna baru ini, yang oleh tim peneliti diberi nama “olo”, menunjukkan spektrum visual yang belum pernah diakses sebelumnya.

Versi terdekat yang bisa direplikasi oleh sistem pencocokan warna digital tampak jelas berbeda dari apa pun yang dikenal.

Melihat Pelangi Baru Melalui Titik Mikro

Tidak berhenti di situ, tim kemudian menguji bagaimana pengaruh pergerakan terhadap persepsi warna ini.

Dengan menampilkan titik bergerak dan mengarahkan mikro-dosis laser ke kon sel tertentu, para peserta mengaku melihat pola warna yang menakjubkan—garis merah terang, titik berputar, dan latar belakang berwarna olo yang begitu hidup.

Ini membuka kemungkinan bahwa warna-warna baru ini tidak hanya bisa ditangkap dalam bentuk gambar diam, tetapi juga dalam bentuk video dinamis.

Sebuah Terobosan Ilmiah yang Diperdebatkan

Meski hasil ini dianggap sebagai bukti nyata oleh tim peneliti, tidak semua ilmuwan sepakat.

John Barbur, seorang ahli penglihatan dari University of London yang tidak terlibat dalam studi ini, menyatakan bahwa klaim ini masih terbuka untuk diperdebatkan.

Ia memuji kemampuan teknologi ini dalam menargetkan sejumlah kecil cone cells sebagai prestasi teknik, namun ia juga memperingatkan bahwa efek yang dirasakan mungkin sekadar peningkatan intensitas warna yang sudah dikenal, bukan warna baru.

Keterbatasan dan Harapan

Perlu dicatat bahwa persepsi warna-warna ini hanya terjadi di tepi penglihatan, bukan di pusat fokus mata.

Hal ini karena di bagian perifer retina, cone cells lebih jarang dan lebih mudah ditarget.

Namun, area ini memiliki ketajaman visual yang lebih rendah, sehingga gambaran warna pun kurang tajam.

Meski demikian, tim peneliti optimistis. Mereka berharap prototipe Oz dapat terus dikembangkan sebagai alat untuk memahami sistem penglihatan secara mendalam, bahkan mungkin menjadi solusi bagi penderita buta warna.

Dalam publikasi mereka di Science Advances, tim menyebut teknologi ini sebagai “kelas baru dari platform eksperimental dalam ilmu penglihatan dan ilmu saraf,” yang mampu mengendalikan aktivitas saraf pertama dalam sistem visual manusia dengan ketepatan tinggi.

Mereka percaya teknologi ini dapat membuka pintu menuju pemrograman setiap fotoreseptor di retina pada setiap waktu.

Bukan Sebatas Gaya Hidup, Begini Tips Memilih Smartwatch Sesuai Kebutuhan

Smartwatch kini menjadi salah satu aksesoris fashion sekaligus perangkat wearable gadget yang makin populer berkat perkembangan teknologi yang kian pesat. Smartwatch tidak hanya berfungsi...

Dampak Negatif Bermain Game Online dan Upaya Mengatasinya

Game online telah menjadi salah satu hiburan paling populer yang kini digandrungi oleh berbagai kalangan. Hal ini tidak semata dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi yang...

5 Tips Menghentikan Kebiasaan Scrolling Media Sosial Agar Tidak Lupa Waktu

Menghentikan kebiasaan scrolling. Media sosial sudah menjadi bagian yang tidak terelakkan dari kehidupan, terutama di kalangan remaja hingga dewasa. Sebagai bentuk kemajuan teknologi, media...

Pentingnya Koding untuk Anak di Era Digital, Bekal Masa Depan yang Tak Bisa Diabaikan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kesadaran orang tua dan sekolah untuk memahami pentingnya koding untuk anak semakin meningkat. Keterampilan yang dulu dianggap eksklusif bagi...

Terbaru