Berita Nasional (Djavatoday.com) – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan strategi pemasaran agresif untuk memastikan target capaian kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia terpenuhi tahun ini.
Pemerintah mewujudkan langkah strategis tersebut melalui penyelenggaraan rangkaian Sales Mission di Shanghai dan Guangzhou pada akhir Mei 2026.
Melalui promosi intensif ini, Kemenpar optimistis dapat menjaring ceruk pasar internasional yang jauh lebih berkualitas.
Oleh karena itu, pemerintah gencar menggaungkan kampanye Wonderful Indonesia “Go Beyond Ordinary” untuk memikat pelancong dari Negeri Tirai Bambu.
Pihak kementerian memandang bahwa pemulihan sektor pariwisata global harus berjalan optimal melalui kolaborasi nyata.
Sementara itu, pemilihan lokasi di Shanghai dan Guangzhou merujuk pada analisis bahwa kedua wilayah ini merupakan kantong pengirim pelancong terbesar.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar pameran biasa.
Menurutnya, Kemenpar merancang program unggulan ini untuk mendorong pariwisata berkualitas yang berdampak ekonomi bagi masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini berfokus mengenalkan produk wisata minat khusus, seperti wisata kebugaran (wellness tourism) dan wisata bahari Nusantara.
Sales Mission ini menjadi upaya Kementerian Pariwisata untuk memperkuat promosi Wonderful Indonesia di pasar Tiongkok sekaligus memperluas jejaring bisnis antara pelaku industri pariwisata kedua negara.
“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia,” kata Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).
Sinergi Industri Dorong Kunjungan Wisatawan Tiongkok ke Indonesia
Pelaksanaan Sales Mission di Shanghai dan Guangzhou melibatkan 14 pelaku industri pariwisata papan atas Indonesia yang lolos proses kurasi.
Tim delegasi ini terdiri atas penyedia jasa agen perjalanan, operator tur, pelaku akomodasi, hingga pengelola atraksi wisata.
Semua peserta membawa komitmen kuat untuk menghadirkan layanan terbaik sesuai preferensi spesifik pasar Tiongkok.
Kemudian, dalam memperluas jangkauan promosi, Kemenpar mengenalkan beragam destinasi unggulan di luar Bali yang tidak kalah memikat.
Destinasi eksotis seperti Lombok, Surabaya, dan Jakarta menjadi komoditas utama dalam tawaran kepada agen perjalanan di Tiongkok.
Di sisi lain, diversifikasi destinasi ini bertujuan mengurai kepadatan wisatawan sekaligus meratakan distribusi pendapatan daerah.
Melalui forum bisnis yang terstruktur, delegasi Indonesia mendapatkan kesempatan emas untuk berinteraksi langsung dengan ratusan mitra bisnis potensial.
Pertemuan business-to-business (B2B) dalam format table top meeting ini berjalan sangat produktif. Oleh karena itu, Kemenpar menilai skema ini jauh lebih efektif mendatangkan wisatawan daripada metode promosi konvensional.
Daftar Akomodasi dan Destinasi Pilihan
Pada sektor akomodasi, Indonesia menghadirkan sejumlah hotel dan resor kelas dunia dengan reputasi pelayanan yang prima.
Pihak panitia mendatangkan AYANA Komodo Waecicu Beach, AYANA Resort Bali, Kappa Sense Ubud, JHL Collection, dan The Mulia Resorts & Villas.
Selain itu, akomodasi eksklusif seperti Somewhere Lombok, Seven Secrets Resort Lombok, Four Seasons Resort Bali, dan Puri Bagus Lovina juga memikat perhatian pembeli.
Sementara itu, pelaku usaha dari sektor perjalanan dan atraksi wisata ikut ambil bagian secara aktif untuk mengamankan kontrak bisnis.
Perusahaan yang berpartisipasi antara lain PT Wahyu Mandiri Tour, New Bidadari Tour, Alexandra Bali Tour, Penjor Tours Bali, Alas Harum Bali, dan The Yoga Barn.
Mereka menawarkan paket wisata regeneratif yang mengedepankan kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Potensi Devisa dan Strategi Pemasaran Bersama
Rangkaian kegiatan Sales Mission tidak hanya memperkuat hubungan diplomasi pariwisata, tetapi juga mencetak angka capaian ekonomi yang fantastis.
Berdasarkan data rekapitulasi pasca-acara, kegiatan di Shanghai dan Guangzhou ini berhasil menghasilkan total 12.336 potensial pax.
Selanjutnya, estimasi potensi transaksi yang tercatat mencapai US$ 6,17 juta atau setara dengan Rp 109,17 miliar.
Lebih dari itu, kesuksesan agenda ini juga memproyeksikan potensi devisa negara yang luar biasa, yaitu sebesar US$ 14,96 juta atau setara dengan Rp 264,8 miliar.
Angka ini menjadi bukti nyata bahwa kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia memiliki nilai belanja yang sangat tinggi. Oleh karena itu, Kemenpar akan mengawal komitmen bisnis ini agar seluruh transaksi terealisasi sepenuhnya.
Keberhasilan program ini tentu tidak lepas dari dukungan masif berbagai mitra swasta melalui strategi collaborative marketing.
Merek-merek unggulan nasional seperti Papatonk, Milkita, Kapal Api, Indomie, dan Rusto’s Tempeh ikut mempromosikan cita rasa khas Indonesia.
Sinergi ini memperkuat penjenamaan (branding) Indonesia di kancah internasional dan menunjukkan kesiapan ekosistem pendukung pariwisata nasional.
Namun, semua upaya promosi tersebut harus berimbang dengan penyediaan akses transportasi udara yang memadai menuju destinasi impian. Beruntung, saat ini konektivitas udara antara Indonesia dan Tiongkok menunjukkan grafik pertumbuhan yang sangat positif.
Shanghai dan Guangzhou kini beroperasi sebagai dua pintu keberangkatan utama yang melayani penerbangan langsung setiap minggunya.
Data Statistik dan Target Kemenpar Tahun 2026
Ni Made Ayu Marthini menjelaskan bahwa Tiongkok tetap memegang posisi krusial sebagai salah satu pasar prioritas utama pariwisata nasional.
Sebagai catatan, pada 2025 yang lalu, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia berhasil menyentuh angka 1.344.074 orang.
Data statistik tersebut menempatkan negara Tirai Bambu sebagai penyumbang wisman terbesar keempat setelah Singapura, Malaysia, dan India.
Memasuki periode tahun 2026, Kemenpar mematok target yang jauh lebih menantang, yakni berada di rentang 1,559 juta hingga 1,726 juta kunjungan.
Optimisme ini muncul berdasarkan performa triwulan pertama tahun ini yang menunjukkan grafik sangat impresif. Hingga Maret 2026, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia tercatat sudah menembus angka 357.740 kunjungan.
Jika membandingkan data dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai 285.025 kunjungan, terjadi lonjakan performa sebesar 25,1 persen.
Pertumbuhan yang eksponensial ini menjadi sinyal kuat bahwa minat warga Tiongkok untuk berlibur ke Indonesia masih sangat tinggi.
Oleh karena itu, Kemenpar terus mengupayakan penambahan frekuensi penerbangan langsung dari kota-kota sekunder di Tiongkok.
Saat ini, penerbangan langsung dari berbagai kota di Tiongkok menuju destinasi di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Surabaya, dan Manado terus menunjukkan perkembangan yang positif.
“Hal ini seiring meningkatnya permintaan perjalanan wisata ke Indonesia,” kata Made. Melalui penguatan jaringan bisnis, Kemenpar yakin target akhir tahun akan terlampaui dengan mudah.
Pada akhirnya, melalui kombinasi strategi promosi yang terarah, Kemenpar optimistis Indonesia siap mendominasi pasar Asia Timur.
Pemerintah yakin bahwa peningkatan kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia akan menjadi motor penggerak utama ekonomi kreatif.
Langkah ini sekaligus menjadi tonggak penting dalam mewujudkan tata kelola pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan.(Red/Djavatoday)

