Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Upaya pelestarian Sapi Rancah terus dilakukan para peternak di Kabupaten Ciamis. Melalui kelompok peternak di Kecamatan Tambaksari, keberadaan sapi lokal khas Ciamis itu kini didorong agar tetap bertahan sebagai plasma nutfah unggulan daerah yang memiliki nilai sejarah, budaya, sekaligus ekonomi.
Salah seorang anggota Kelompok Peternak Sapi Dalemsari, Kecamatan Tambaksari, Didi Sahidi mengatakan, Sapi Rancah merupakan kekayaan genetik lokal yang memiliki karakteristik khas dan berbeda dibanding sapi dari daerah lain.
“Secara ilmiah sudah terbukti bahwa Sapi Rancah memiliki genetik ras yang spesifik. Ini menjadi kebanggaan masyarakat Ciamis, khususnya wilayah Rancah, sehingga harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujar Didi, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, pelestarian Sapi Rancah tidak hanya sebatas menjaga populasi ternak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan plasma nutfah lokal yang memiliki potensi besar di masa mendatang.
Ia menilai keberadaan Sapi Rancah juga bisa menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga sumber daya genetik lokal. Bahkan, kawasan peternakan Sapi Rancah dinilai berpotensi dikembangkan menjadi wisata edukasi berbasis peternakan.
“Tujuan utamanya memang edukasi. Ke depan kami berharap kawasan pengembangan Sapi Rancah dapat menjadi pusat penelitian terkait ketahanan pangan dan kemandirian pangan berbasis potensi lokal,” katanya.
Didi menambahkan, berbagai upaya yang dilakukan kelompok peternak saat ini masih membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah maupun pihak lainnya agar program pengembangan berjalan lebih optimal.
Ia mengaku mengapresiasi perhatian yang mulai diberikan terhadap keberadaan Sapi Rancah. Namun menurutnya, dukungan nyata dan insentif bagi peternak tetap diperlukan agar masyarakat semakin termotivasi menjaga ternak lokal tersebut.
“Kami berharap ada dukungan yang lebih berkelanjutan sehingga peternak semakin semangat mempertahankan plasma nutfah ini sebagai warisan daerah,” ungkapnya.
Selain melakukan pengembangan di tingkat kelompok, para peternak juga tengah berupaya menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat. Saat ini, Kelompok Tani Dalemsari disebut telah mengajukan permohonan audiensi kepada Direktorat Jenderal Peternakan dan Perikanan.
“Sekarang kami sedang berusaha agar permohonan audiensi yang sudah diajukan bisa segera disetujui,” jelas Didi.
Dukungan terhadap pelestarian Sapi Rancah juga datang dari Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Jawa Barat, H. Eet Riswana.
Menurutnya, kondisi populasi Sapi Rancah saat ini cukup memprihatinkan karena terus mengalami penurunan sehingga membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
“Kami melihat berdasarkan data statistik, populasi Sapi Rancah terus menurun. Karena itu sangat dibutuhkan dukungan pemerintah agar Sapi Rancah tetap bertahan dan menjadi ikon Kabupaten Ciamis,” katanya.
Ia berharap sinergi antara peternak, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat terus diperkuat agar Sapi Rancah tidak hanya terjaga keberadaannya, tetapi juga berkembang menjadi salah satu identitas unggulan Kabupaten Ciamis.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Sapi Rancah diharapkan mampu menjadi simbol kemandirian pangan berbasis kearifan lokal sekaligus warisan berharga bagi generasi mendatang. (Andra/CN/Djavatoday)

