Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Dua bulan lalu, lahan tadah hujan di Dusun Cikatomas, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, mulai ditanami semangka. Kini, lahan seluas 110 bata atau sekitar 1.540 meter persegi itu menghasilkan sekitar tiga ton buah yang siap dipanen.
Di balik panen tersebut, ada perjuangan Septian Mulyana (28), pemuda yang akrab disapa Iyan. Berbekal pengalaman belajar secara otodidak dan modal awal sekitar Rp 8 juta, ia membuktikan bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif saat musim kemarau masih bisa menghasilkan nilai ekonomi.
Perjalanan Iyan menuju dunia pertanian tidak lepas dari pengalaman hidupnya. Ia mengaku pernah berjuang melawan penyakit thalasemia selama 11 tahun. Setelah sembuh, ia mulai menekuni pertanian pada 2015 hingga akhirnya mengembangkan budidaya semangka dalam tiga tahun terakhir.
“Dulu saya pernah mengalami penyakit thalasemia selama 11 tahun. Setelah sembuh, saya terjun ke dunia pertanian sejak 2015. Kalau untuk semangka, baru sekitar tiga tahun terakhir,” tutur Iyan.
Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang pertanian. Pengetahuan mengenai budidaya tanaman dipelajarinya secara mandiri, termasuk melalui pengalaman dan belajar dari teman.
Bagi Iyan, bertani menjadi aktivitas sehari-hari sekaligus cara untuk terus mengembangkan diri. Dari proses belajar tersebut, ia mencoba memanfaatkan lahan tadah hujan di lingkungannya yang kerap tidak produktif ketika kemarau tiba.
“Awalnya saya ingin memanfaatkan lahan tidur yang tidak produktif akibat kekeringan. Saya belajar dari teman dan mencoba secara otodidak. Perawatan tanaman juga saya kerjakan bersama keluarga,” katanya.
Panen Semangka dalam 60 Hari
Usaha Iyan mulai menunjukkan hasil setelah 60 hari penanaman. Dari sekitar 1.200 bibit semangka jenis Dansa Merah, ia mampu menghasilkan panen sekitar tiga ton. Bobot satu buah semangka rata-rata mencapai 5,5 kilogram.
Hasil panen tersebut kemudian dijual langsung di lokasi kebun. Pembeli bisa datang untuk memilih dan memetik sendiri semangka yang diinginkan, sehingga kawasan itu sekaligus mulai dikembangkan sebagai wisata petik semangka.
Dalam dua hari pertama penjualan, Iyan menyebut hasil yang terjual mencapai sekitar satu ton. Pembeli yang datang sejauh ini masih didominasi warga dari wilayah Ciamis.
Untuk harga, semangka jenis Dansa Merah dijual Rp 10.000 per kilogram, sedangkan jenis Redin atau semangka inul dibanderol Rp 8.000 per kilogram.
Pemasaran juga dilakukan melalui media sosial untuk mengenalkan kebun dan menarik lebih banyak pengunjung. Melihat respons pembeli, Iyan berharap usahanya bisa berkembang dan area tanamnya bertambah pada musim berikutnya.
Ketua DPRD Ciamis Apresiasi Inisiatif Petani Muda
Upaya Iyan menarik perhatian Ketua DPRD Kabupaten Ciamis, Nanang Permana, yang meninjau langsung lokasi panen pada Sabtu (24/10/2026). Kunjungan itu turut dihadiri jajaran Pemerintah Desa Handapherang, tokoh masyarakat, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa.
Nanang bahkan ikut memetik dan menimbang hasil panen. Ia melihat langsung semangka yang dibudidayakan Iyan, dengan bobot rata-rata mencapai 5,5 kilogram per buah.
Menurut Nanang, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan dan kondisi musim bukan selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan pendapatan. Dengan kemauan dan kreativitas, lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi usaha produktif.
“Ini bukti bahwa dengan kreativitas dan kemauan, musim kemarau yang kerap ditakuti justru bisa mendatangkan berkah ekonomi. Persoalannya bukan semata-mata pada iklim atau luasnya lahan, melainkan juga niat dan kemauan untuk bekerja keras,” ujar Nanang.
Ia juga menilai profesi petani memberikan ruang bagi seseorang untuk mengelola usaha secara mandiri. Menurutnya, pertanian dapat menjadi pilihan bagi generasi muda untuk membangun kemandirian ekonomi melalui pengelolaan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
Berpeluang Dikembangkan Menjadi Wisata Petik Semangka
Keberhasilan Iyan turut mendapat apresiasi dari Ketua RW 06 Dusun Cikatomas, Taufan Nugraha. Ia berharap langkah pemuda tersebut dapat menginspirasi warga lain, khususnya generasi muda, untuk mulai memanfaatkan potensi lahan di wilayahnya.
Masyarakat setempat juga melihat peluang untuk mengembangkan kawasan Lembur Pasir sebagai destinasi wisata petik semangka. Selain menarik pengunjung, konsep tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha dan menggerakkan perekonomian warga.
Pengalaman Iyan dalam membudidayakan semangka juga berpotensi dibagikan kepada petani muda lainnya. Untuk mendukung pengembangan usaha, masyarakat berencana menjalin koordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), BUMDes, serta Bank Galuh terkait pendampingan, permodalan, dan optimalisasi lahan tadah hujan.
Kepala Desa Handapherang, Tantan Sontani, menyatakan pemerintah desa akan mendukung kolaborasi antara pemuda, BUMDes, dan berbagai potensi desa yang belum tergarap maksimal.
“Potensi kita sangat besar. Tinggal bagaimana membangun kemauan yang kuat dari masyarakat. Keberhasilan Saudara Iyan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan musim bukan halangan untuk tetap berproduksi,” kata Tantan.
Bagi Iyan, panen kali ini menjadi pijakan untuk mengembangkan usaha yang telah dirintisnya. Ia berharap budidaya semangka yang awalnya dilakukan untuk memanfaatkan lahan tidak produktif dapat tumbuh menjadi usaha yang lebih besar.
Dari lahan tadah hujan di Cikatomas, Iyan menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya bergantung pada kondisi alam. Pengetahuan yang terus dipelajari, kerja bersama keluarga, dan keberanian mencoba peluang menjadi bagian penting dari upayanya membangun masa depan melalui pertanian. (Ayu/CN/Djavatoday)

