Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis terus menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam penerjemahan kebijakan kesehatan nasional ke dalam aksi nyata di daerah. Di bawah kepemimpinan Direktur dr. Bayu Yudiawan, rumah sakit ini menyelaraskan visi dengan program prioritas pemerintah, mulai dari pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), rencana induk kesehatan nasional, hingga agenda eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030.
Dr. Bayu menjelaskan, RSUD Ciamis tidak hanya memastikan layanan dasar terpenuhi sesuai standar mutu, tetapi juga mengintegrasikan arahan nasional dalam setiap langkah pembangunan kesehatan. Hal ini mencakup:
Pemenuhan SPM: memastikan layanan kesehatan dasar tersedia dengan kualitas yang terukur.
Rencana Induk Pembangunan Kesehatan: penguatan fasilitas, tenaga kesehatan, dan sistem rujukan secara merata.
Program PHP-C (Program Hasil Terbaik Cepat): fokus pada penanggulangan TB, pencegahan stunting, cek kesehatan gratis, serta penurunan angka kematian ibu dan anak.
“Strategi ini bukan hanya mengikuti instruksi pusat, tetapi juga bagaimana kami mengadaptasikannya sesuai kebutuhan lokal agar lebih berdampak bagi masyarakat,” ujar dr. Bayu, Sabtu (20/9/2025).
Perjuangan Eliminasi TB MDR
Salah satu target besar yang menjadi perhatian RSUD Ciamis adalah eliminasi TB, termasuk TB Resisten Obat (TB MDR). Sejak Januari 2023, rumah sakit ini membuka layanan Poli TB MDR lengkap dengan fasilitas diagnosis molekuler (PCR), ruang rawat bertekanan negatif, ruang isolasi terpisah, serta tenaga spesialis paru.
Hingga kini, tercatat 32 kasus TB MDR telah ditangani. Dari jumlah itu, 10 pasien berhasil sembuh, meski masih ada yang gagal pengobatan, meninggal dunia, atau hilang dari pemantauan (lost to follow-up).
“Kami harus mempercepat diagnosis, memperkuat kepatuhan pengobatan, dan memperluas akses layanan. Bila langkah ini konsisten dijalankan, target nasional eliminasi TB 2030 bukan hanya slogan,” tegas dr. Bayu.
Tantangan di Lapangan
Meski strategi sudah jelas, sejumlah hambatan masih membayangi.
Kepatuhan pasien: regimen pengobatan TB MDR panjang, dengan efek samping yang berat, membuat banyak pasien berhenti sebelum tuntas.
Diagnosis terlambat: meski fasilitas PCR tersedia, masih banyak pasien baru terdeteksi resisten obat setelah pengobatan standar gagal.
Keterbatasan SDM dan fasilitas: jumlah laboratorium, ruang isolasi, serta dokter spesialis paru belum mencukupi untuk cakupan luas.
Pendanaan: sebagian besar sebelumnya ditopang bantuan luar negeri. Kini, RSUD mulai bergantung pada pembiayaan dalam negeri, termasuk BPJS, yang menimbulkan tantangan dalam distribusi obat, dukungan transportasi, dan pemerataan akses bagi pasien jauh dari pusat layanan.
Rencana Konkret RSUD Ciamis
Untuk menjawab tantangan tersebut, dr. Bayu merinci langkah-langkah ke depan:
Penguatan jejaring dengan Puskesmas: skrining TB dan stunting dilakukan lebih dekat ke masyarakat.
Perluasan layanan TB MDR lokal: agar pasien tidak perlu dirujuk jauh, sekaligus menjaga mutu SDM dan ketersediaan obat.
Pengembangan laboratorium dan ruang isolasi: guna mendeteksi penyakit menular emerging dan mencegah penularan di rumah sakit.
Edukasi publik dan pengurangan stigma: mendorong deteksi dini, mengurangi rasa takut pasien, serta memastikan pengobatan dijalankan hingga tuntas.
Menurut dr. Bayu, keberhasilan transformasi kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi dari pusat, tetapi juga adaptasi di daerah.
“Jika strategi, fasilitas, SDM, dan pendanaan berjalan selaras, target besar seperti Indonesia Sehat 2029 dan eliminasi TB 2030 bisa tercapai. Namun kuncinya tetap ada pada bagaimana daerah mampu mengatasi masalah di lapangan, terutama kepatuhan pasien, stigma, dan akses layanan,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

