Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Sebanyak tujuh rumah warga di Desa Sadapaingan dan Desa Mekarbuana, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terpaksa harus direlokasi akibat bencana pergeseran tanah dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Namun proses relokasi rumah terdampak pergeseran tanah masih menunggu hasil kajian dari tim geologi sebagai dasar pengambilan keputusan lebih lanjut.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis telah meninjau langsung lokasi terdampak untuk melakukan asesmen awal.
“Berdasarkan hasil peninjauan dan asesmen tim BPBD bersama Bupati, ada tujuh rumah yang dipastikan harus direlokasi. Meski demikian, pelaksanaannya masih menunggu rekomendasi resmi dari tim kajian geologi,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani.
Ia menegaskan bahwa kajian dari Badan Geologi sangat penting sebagai syarat administratif dalam proses relokasi rumah korban bencana pergeseran tanah di Ciamis. Rencananya, tim geologi akan berada di Ciamis untuk melakukan kajian lapangan mulai Minggu (13/4/2025) hingga Jumat (18/4/2025).
Sementara itu, Pemerintah Desa Mekarbuana dan Desa Sadapaingan bersama Pemerintah Kecamatan Panawangan tengah mempersiapkan lahan yang akan digunakan untuk relokasi para warga terdampak.
“Setelah hasil kajian geologi keluar, akan digelar rapat koordinasi untuk menindaklanjuti rekomendasi tersebut. Termasuk menentukan lokasi relokasi untuk tujuh rumah yang teridentifikasi harus dipindahkan,” tambah Ani.
Saat ini, sebagian warga yang terdampak masih bertahan di lokasi pengungsian, meskipun jumlahnya mulai berkurang seiring ada yang memilih kembali ke rumah masing-masing.
“Jumlah pengungsi kini tercatat sebanyak 55 keluarga atau 148 jiwa. Di antaranya, 66 jiwa berasal dari Desa Mekarbuana dan 88 jiwa dari Desa Sadapaingan. Mereka sementara tinggal di masjid dan balai desa,” ujar Ani.
Bencana ini terjadi setelah pergeseran tanah besar terjadi di bukit setinggi 50 meter pada Senin (7/4/2025). Longsor di Desa Sadapaingan tercatat mencapai volume 500 meter, sementara di Desa Mekarbuana sekitar 300 meter. (Ayu/CN/Djavatoday)

