Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Suasana Pendopo Wretikandayun di kawasan Pusat Budaya Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis tampak lebih hidup dari biasanya. Puluhan juru pelihara situs budaya, pengelola cagar budaya, serta sejumlah pemangku kepentingan berkumpul dalam satu forum yang membahas masa depan pelestarian budaya daerah.
Hari itu, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis menggelar kegiatan pembinaan juru pelihara sekaligus sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah.
Kegiatan ini tidak sekadar pertemuan formal. Para peserta diajak memahami lebih dalam peran mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga situs-situs bersejarah. Mulai dari teknik dasar pelestarian, pengelolaan kawasan budaya, hingga penguatan peran di tengah masyarakat.
Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis, Dian Budiyana, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa juru pelihara memiliki posisi penting dalam menjaga keaslian warisan budaya.
“Juru pelihara itu ujung tombak. Mereka yang setiap hari bersentuhan langsung dengan situs budaya. Karena itu, kemampuan dan pemahaman mereka harus terus ditingkatkan,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan kerja sama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan para pengelola situs agar nilai-nilai sejarah tetap terjaga.
“Sinergi itu penting. Kalau semua bergerak bersama, pelestarian budaya akan lebih kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Selain pembinaan, peserta juga mendapatkan pemahaman terkait regulasi terbaru, yakni Perda Nomor 9 Tahun 2025. Aturan ini menjadi landasan dalam upaya pemajuan kebudayaan daerah agar lebih terarah dan terukur.
Melalui kegiatan ini, para juru pelihara diharapkan semakin memahami tanggung jawabnya. Mereka tidak hanya menjaga situs secara fisik, tetapi juga merawat nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Lebih jauh, pelestarian budaya di Ciamis diharapkan tidak hanya berhenti pada menjaga warisan masa lalu. Namun juga mampu memberi manfaat bagi masa kini, baik sebagai sarana edukasi, penguatan identitas daerah, hingga mendorong potensi pariwisata budaya.
Di tengah arus modernisasi, langkah kecil dari para juru pelihara ini menjadi bagian penting dalam memastikan warisan budaya tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

