Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Lokasi paralayang di Bukit Datar Gandul, Desa Sagalaherang, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, kini menjadi sorotan sebagai destinasi wisata olahraga (sport tourism) baru. Pemerintah Desa (Pemdes) Sagalaherang secara aktif mendorong Pengurus Cabang (Pengcab) Paralayang Ciamis untuk lebih rutin menyelenggarakan kegiatan di venue tersebut. Harapannya, frekuensi kegiatan yang tinggi akan menjadi katalisator bagi peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Keberadaan Bukit Datar Gandul sebagai venue paralayang berstandar wisata ini tidak lepas dari upaya penataan dan persiapan yang terus dilakukan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Ciamis, termasuk melalui serangkaian uji coba terbang.
Ketua Pengcab Paralayang Ciamis, Endang Haris Juanda, menyampaikan rasa bangganya terhadap lokasi ini. Menurutnya, venue tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter dan peningkatan kualitas atlet.
“Kami bangga karena semua atlet yang lolos adalah produk lokal yang berlatih di venue ini,” ungkap Endang Haris Juanda pada Selasa (9/12/2025).
Ia menambahkan bahwa kontur alam yang stabil, udara sejuk, dan pemandangan perbukitan yang menawan menjadikan Gandul magnet bagi atlet maupun wisatawan. Kondisi ini memperkuat visi Pengcab untuk menjadikan paralayang sebagai ikon sport tourism Ciamis di masa mendatang. Pengelolaannya pun ditekankan harus profesional, diimbangi dengan penguatan infrastruktur dan manajemen keselamatan, mengingat risiko tinggi dalam olahraga paralayang.
Meskipun potensi alamnya luar biasa, Kepala Desa Sagalaherang, Latif Yutra Sutarman, berharap agar kegiatan paralayang tidak hanya bersifat insidental. Pemdes secara tegas meminta Pengcab Paralayang Ciamis dan Pemda Ciamis agar acara serupa dapat digelar secara lebih kontinu.
Saat ini, Pemdes menilai frekuensi kegiatan masih terlalu jarang untuk mendongkrak ekonomi secara optimal.
“Kami berharap kegiatan paralayang itu bukan saja diadakan satu tahun hanya dua kali, tapi paling tidak satu bulan dua atau tiga kali. Dengan demikian, kunjungan wisata ke lokasi tersebut bisa lebih meningkat,” tegas Latif, Selasa (9/12/2025).
Alasan utama di balik dorongan ini adalah dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh desa dan masyarakat setiap kali ada acara.
Latif menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan olahraga tersebut. Pihak desa memanfaatkan momen ini dengan menerapkan retribusi tiket masuk sebesar Rp5.000 per pengunjung.
“Setiap ada event, hasil tiket masuk ini alhamdulillah bisa meningkatkan penghasilan PADes. Selain itu, ekonomi UMKM warga juga otomatis meningkat. Jadi, kami sangat berharap kegiatan serupa bisa digelar lebih rutin lagi,” pungkas Latif.
Sinergi antara Pemdes, komunitas olahraga, dan pemerintah daerah ini menjadi kunci. Mereka terus berkoordinasi untuk menjaga kawasan tetap ramah pengunjung sambil memastikan kelestarian alam, agar potensi besar Gandul sebagai motor penggerak ekonomi lokal dapat terealisasi secara maksimal. (Andra/CN/Djavatoday)

