Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Biasanya, menjelang Ramadan warga bersiap menyambut bulan suci dengan kebersamaan atau makan-makan alias Munggahan. Namun Selasa (17/2/2026) pagi, tradisi munggahan warga Dusun Kubangpari, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, terasa berbeda. Alih-alih menyiapkan hidangan, warga justru sibuk mengeruk lumpur yang memenuhi rumah mereka.
Sisa banjir luapan Sungai Citalahab masih tampak jelas. Perabotan dijemur di halaman, kursi dan lemari diangkat ke luar rumah, sementara anggota keluarga berbagi tugas. Ada yang menyodok lumpur dari sudut ruangan, mencuci perlengkapan dapur, hingga menyiram lantai dengan air bersih agar tak lagi lengket oleh tanah.
“Tahun ini munggahannya bersih-bersih. Lumpur masih tebal karena banjir. Ini sudah yang kedua kali dalam waktu dekat,” kata Sunardi (45), warga setempat.
Ia menuturkan, air masuk ke permukiman pada malam hari setelah tanggul sungai kembali jebol. Meski lokasi tanggul tidak berada persis di dekat rumah warga, derasnya arus membuat genangan cepat meluas. Ketinggian air bahkan sempat mencapai sekitar satu meter.
Menurut Sunardi, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun kerugian dirasakan para petani. Sawah yang padinya siap dipanen hanyut tersapu arus. Ia berharap perbaikan tanggul segera dilakukan agar banjir tak terus berulang.
Bukan hanya rumah warga yang terdampak. Aktivitas bersih-bersih juga berlangsung di lingkungan MIN 4 Ciamis. Ruang kelas yang biasanya riuh oleh suara murid kini dipenuhi lumpur pekat.
Kepala MIN 4 Ciamis Ai Rahmah Musyarofah mengatakan, banjir kali ini merupakan kejadian kedua dalam dua pekan terakhir akibat jebolnya tanggul Sungai Citalahab. Hujan deras pada sore hari memicu naiknya debit air hingga meluap ke lingkungan sekolah.
Air masuk dari dua arah, melalui gerbang depan dan belakang. Di dalam area sekolah, ketinggian genangan sempat mencapai lutut orang dewasa, bahkan lebih tinggi di luar pagar. Sebanyak 12 ruang kelas terdampak, ditambah dapur dan ruang UKS, sehingga total sekitar 15 ruangan terendam.
Beruntung, perangkat elektronik seperti laptop berhasil diamankan karena pihak sekolah telah belajar dari banjir sebelumnya. Arsip penting juga selamat setelah karyawan sigap memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi.
Kerusakan justru banyak terjadi pada buku pelajaran yang terendam di lemari kelas. Selain itu, lantai keramik di beberapa ruangan rusak cukup parah, terutama di kelas 6A dan 6B yang dilaporkan mengalami kerusakan paling serius. Satu unit mobil operasional sekolah pun mogok setelah terendam air.
Air mulai surut menjelang tengah malam. Sejak itu, pihak sekolah bersama aparat dari Polres Ciamis, Kodim 0613 Ciamis, Damkar, Tagana, dan BPBD bahu-membahu membersihkan lumpur yang mengendap.
Momentum libur sekolah dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembersihan. Namun kekhawatiran tetap ada. Jika banjir kembali terjadi saat kegiatan belajar berlangsung, sekolah berencana menjalin kerja sama dengan lembaga diniyah di lokasi yang lebih tinggi sebagai tempat sementara kegiatan belajar mengajar.
“Selama tanggul belum diperbaiki permanen, kami akan terus terdampak,” ujar Ai Rahmah.
Di Kubangpari, munggahan tahun ini bukan hanya tentang menyambut Ramadan, melainkan juga tentang ketabahan menghadapi banjir yang datang berulang. Warga berharap, sebelum azan pertama Ramadan berkumandang, tanggul sungai benar-benar diperkuat agar tradisi tahun depan tak lagi diwarnai lumpur. (Ayu/CN/Djavatoday)

