Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kirab Mahkota Binokasih dalam rangka Milangkala Tatar Sunda menarik perhatian ribuan warga. Kegiatan yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ini bukan hanya acara budaya, tapi juga upaya menghidupkan kembali sejarah dan identitas Sunda.
Panitia Milangkala Tatar Sunda, Budi Kurnia, mengatakan kirab ini mengangkat tema “Nyuhun Buhun Nata Nagara”. Tema ini mengingatkan bahwa masyarakat Sunda dulu memiliki peradaban yang maju.
“Dulu kita punya sistem kehidupan yang baik. Tapi sekarang banyak peninggalan sejarah yang tidak utuh,” ujarnya.
Menurutnya, Mahkota Binokasih menjadi simbol penting untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Mahkota yang kini disimpan di Keraton Sumedang Larang itu disebut sebagai bukti nyata sejarah.
“Mahkota ini sudah diuji, kandungan emasnya sekitar 18,8 karat dan diperkirakan dibuat abad ke-14,” katanya.
Kirab ini juga menempuh rute yang punya makna sejarah. Perjalanan dimulai dari Sumedang, lalu ke Ciamis, kemudian berlanjut ke Tasikmalaya, Garut, Cianjur, hingga Bogor.
“Ini seperti napak tilas perjalanan mahkota dari masa ke masa,” jelasnya.
Selain membawa pesan sejarah, kirab ini juga menjadi strategi menarik wisatawan. Setelah infrastruktur dibangun, pemerintah ingin menghadirkan kegiatan yang bisa menarik orang datang.
“Kalau jalan sudah bagus tapi tidak ada yang datang, ya percuma. Makanya dibuat event seperti ini,” ujarnya.
Hasilnya mulai terlihat. Saat kirab digelar, pengunjung memadati lokasi. Hotel dan penginapan di sekitar Kawali bahkan penuh.
“Ini bukti kalau event budaya bisa menggerakkan ekonomi,” katanya.
Kirab juga menjadi sarana promosi yang efektif. Selama beberapa hari, kegiatan ini ramai di media dan media sosial.
“Tiap hari ada cerita dari Jawa Barat. Ini promosi besar tanpa biaya besar,” ujarnya.
Budi menambahkan, kirab dikemas semenarik mungkin. Mulai dari iring-iringan kuda, kereta kencana, hingga penampilan puluhan kesenian dari berbagai daerah.
Menurutnya, Jawa Barat punya kekayaan budaya yang beragam. Mulai dari Sunda, Betawi, hingga Dermayon, semua memiliki ciri khas masing-masing.
“Ini kekuatan kita yang harus ditunjukkan,” katanya.
Ke depan, kirab ini direncanakan menjadi agenda tahunan. Rutenya juga akan terus dikembangkan agar menjangkau lebih banyak daerah.
“Harapannya bisa rutin digelar dan semakin besar,” ujarnya.
Ia menegaskan, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi mengajak masyarakat kembali mengenal nilai-nilai leluhur.
“Kita ingin mengambil pelajaran dari masa lalu, seperti hidup selaras dengan alam dan kehidupan yang seimbang,” kata Budi. (Ayu/CN/Djavatoday)

